Senin, 30 Desember 2013

Sawarna, Mutiara Banten di Pantai Selatan

Siapa yang tak kenal Pelabuhan Ratu. Kota kecil di pantai selatan Jawa Barat itu terkenal sebagai lokasi wisata laut favorit. Ketenarannya menyamai Pantai Pangandaran. Walaupun kedua pantai ini sama-sama berada di Jawa Barat, tapi lokasinya sangat jauh. Pelabuhan Ratu berada di sebelah barat, berbatasan langsung dengan Propinsi Banten. Sedangkan Pangandaran, berada di sebelah timur menuju perbatasan Jawa Tengah.

Di peta, Pantai Sawarna terlihat bersisian dengan Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak dekat kota Bayah dan menjadi bagian dari Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kalau dari Pelabuhan ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Satu melalui jalur utara memutar ke Pasir Kuray - Cikotok - Bayah sedangkan alternatif kedua melalui jalan lintas Cisolok - Cilograng.

Kedua rute tersebut sama-sama bagus dan mulus, hanya memang ada beberapa bagian ruas jalan yang rusak cukup parah. Jalur pertama memang lebih jauh tapi jalannya relatif tidak terlalu terjal dan berkelok. Sebaliknya jika menggunakan rute kedua, Anda harus bersiap dengan kelokan dan terjalnya jalan dalam jarak yang relatif pendek. Hati-hati, jangan lupa mempersiapkan kendaraan dengan baik.

Memasuki desa Sawarna, kita akan mulai merasakan suasana desa pantai di beberapa bagian. Adapun di bagian lainnya terasa seperti desa di pedalaman biasa karena tak terdengar debur ombak. Banyak obyek wisata yang bisa Anda kunjungi sekaligus di desa ini. Hal tersebut tercantum jelas pada peta yang sudah disiapkan pemerintah setempat.

Peta Lokasi dilengkapi dengan keterangan penting termasuk tarif ojek ke daerah tertentu.
Dari sekian banyak obyek wisata, Tanjung Layar dan Pasir Putih sepertinya menjadi favorit pengunjung. Itu ditandai dengan parkiran mobil dan bus yang selalu penuh. Berbeda dengan tempat lainnya di kawasan ini.
Letaknya yang berdekatan memudahkan pengunjung. Untuk masuk ke sini, kita harus melalui pintu gerbang depan jembatan gantung. Tarif sekali masuk Rp. 5000/orang.

Jarak tempuh ke Tanjung Layar sekitar 1 km, atau pengunjung juga bisa menyewa ojek. Ada juga pengunjung yang mengendarai motor hingga sampai ke lokasi. Sedangkan jarak ke Pasir Putih lebih dekat, hanya berkisar 200 meter. Kondisi jalan cukup bagus dengan pengeras paving block. Pengunjung cukup dimanjakan dengan pemandangan sawah, perkebunan dan bukit di kejauhan.

Pintu masuk kawasan Tanjung Layar dan Pasir Putih.

Dinamakan Tanjung Layar karena di kawasan ini terdapat batu besar menyerupai dua layar kapal. Bentuknya yang unik menjadikan daerah ini tempat pengambilan gambar favorit pengunjung. Tidak disarankan bermain air atau berenang di sini karena ombak yang sangat kuat. Selain itu dasar pantai berupa batuan berpotensi melukai jika tidak berhati-hati.

Penulis berfoto dengan latar belakang batu berbentuk layar.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain ombak sebaiknya dilakukan di Pasir Putih. Di sini relatif aman karena pantainya yang landai dan berpasir. Tapi prinsip hati-hati dan waspada harus tetap diingat.

Pantai Pasir Putih, Sawarna Banten.

Pengunjung tak perlu bingung mengenai akomodasi. Di kawasan ini bertebaran homestay dan tempat makan yang cukup memadai. Begitupula dengan fasilitas kamar mandi dan air bersih. Bahkan pengunjung yang ingin memasang tenda pun bisa. Untuk kepentingan ini, pengunjung bisa meminta izin pada penduduk yang membuka warung di sekitar situ. Biasanya mereka akan mengizinkan dengan imbal balik belanja makanan di warung atau menggunakan fasilitas kamar mandi yang disediakan pemilik warung tersebut. Tak usah khawatir masalah harga, cukup terjangkau kok.

Sedikit pembeda dengan kawasan wisata pantai lainnya adalah masih sedikitnya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Di kawasan Sawarna hanya tersedia fasilitas surfing, dan itupun tidak banyak pengunjung yang memanfaatkannya. Hanya segelintir wisatawan asing yang terlihat surfing. Di sini juga tidak terlihat aktifitas banana boat dan snorkeling. Mungkin karena ombaknya yang tidak memungkinkan.

Nah, jika Anda sedang merencanakan liburan ke pantai dan bosan dengan Carita, Anyer maupun Pelabuhan Ratu, mungkin saatnya mencoba Pantai Sawarna. Mutiara Propinsi Banten di Pantai Selatan.

Jumat, 27 Desember 2013

Kekuatan Fiksi

Saya ini termasuk penulis yang jarang sekali atau bisa dibilang tidak pernah menulis fiksi remaja maupun dewasa. Saya lebih menikmati nonfiksi karena merasa daya imajinasi saya sepertinya agak terbatas :). Belum lagi saya merasa pilihan kata-kata saya sepertinya terbatas. Itulah alasan utama saya tiak menulis fiksi dewasa maupun remaja.

Untuk fiksi anak, saya sudah menghasilkan beberapa buku untuk pembaca anak. Baik itu yang berbentuk pictorial book maupun novel anak. Tapi bukankah ini juga membutuhkan imajinasi? Betul, hanya saja saya mungkin agak terbantu karena suka membaca buku anak (bareng anak-anak saya) dan juga banyak bergaul dengan anak-anak murid saya.

Namun kali ini saya terpancing untuk ikut urun cerita di ajang menulis fiksi yang diadakan komunitas fiksiana / kompasiana. Mungkin karena temanya cukup menyentuh, yaitu tentang ibu, membuat saya tertarik ikutan. Saya pun mempelajari syarat-syarat yang disebutkan antara lain menggunakan sudut pandang orang pertama, format surat seperti kita menulis surat untuk ibu sendiri, harus menguras air mata dan point yang terakhir adalah boleh pengalaman sendiri maupun fiksi.

Membaca ketentuan tersebut, saya pun mulai menggali semua ingatan saya tentang mama saya. Tentunya yang sedih dan diharapkan mampu menguras air mata. Kok ya, makin dipikir saya makin tidak menemukan. Apa pasal? Mungkin karena, alhamdulillah, saya rasanya tidak pernah mengalami masa yang harus bersimbah air mata.

Ah, nggak mungkin. Pasti ada saja yang berkata demikian. Memang rasanya nggak mungkin ada manusia yang tidak mengalami kesedihan. Tapi suer, saya belum nemu sedikitpun kisah sedih dalam relasi saya dengan mama. Semuanya menggembirakan, walaupun terus terang saya mengakui hidup kami juga tidak berlebihan kok. Tapi semuanya lancar....saja. Alhamdulillah.

Akhirnya saya pun terpikirkan seorang anak, sebutlah namanya Ani. Dia sekarang masih duduk di bangku SMP. Nah Ani inilah yang merasuki sang aku dalam cerita yang saya buat. Saya mengenal keluarga Ani jauh sebelum dia lahir. Bahkan sampai aib dimana tak ada seorangpun lelaki yang mengakuinya sebagai anak karena ibunya memang hamil diluar nikah.

Nah dari sinilah saya berusaha menyelami perasaan Ani. Oh iya ibu Ani memang cacat, tapi bukan bisu tuli seperti yang saya ceritakan di situ. Ibu Ani kurang cerdas. Saya nggak tahu persisnya penyakit apa. Kalau kita berinteraksi biasa dengannya, tidak terlihat tanda-tanda ada yang kurang padanya. Tapi kalau kita lama bergaul, barulah kekurangan itu terasa.

Sebagai Ani, saya pun berusaha merasakan bagaimana jika tak memiliki ayah (maksudnya tak ada yang mengaku gitu) dan memiliki ibu yang agak 'kurang'. Saya pun mengulik dari kisah Ani, bagaimana dia makin malu ketika harus diantarkan ke sekolah oleh ibunya. Bagaimana dia lebih memilih sang nenek mengambil rapor dibanding dengan ibunya. Dari sinilah cerita itu kemudian mengalir.

Setelah saya memposting cerita tersebut, dukungan pun mngalir. bukan hanya karena kisahnya yang menyentuh. Tapi ternyata banyak pula yang menaruh simpati pada nasib aku di cerita tersebut. Bahkan beberapa teman pun 'kecele' menyangka kalau itu kisah saya pribadi. Ada yang sampai mengungkapkan tidak menyangka kalau saya yang sekarang ternyata memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan.

Membaca simpati itu tentu saja sikap saya jadi mendua. Di satu sisi saya merasa sedikit 'kesal' karena dianggap memiliki masa lalu yang tidak biasa. Tapi di sisi lain, sebagai penulis, tentu saja saya merasa senang karena berhasil menuliskan dan menyelami perasaan Ani dalam cerita yang saya buat. Mungkin ini salah satu kekuatan fiksi. Membuat orang simpati pada sang tokoh.

Pengumuman hasilnya sih belum ada. Entah saya menang atau tidak. Tapi terlepas dari itu semua saya cukup senang bisa menuliskan sesuatu yang tidak biasanya saya tulis. Semoga ini menjadi pengalaman pertama menuliskan kisah-kisah demikian.

Tertarik membaca kisah tersebut. Disini ya.... :)


Kamis, 26 Desember 2013

Menguak Sejarah di Situs Megalithikum Gunung Padang, Cianjur (1)

Membuat judulya kok terasa serius banget ya? Hehe, padahal sih menguak sejarah di sini bukan dalam arti berat lho. Hanya mengajak anak-anak berkunjung ke tempat yang (mungkin) mengandung arti sejarah.

Pilihan jatuh ke Gunung Padang karena kontroversi yang beredar di masyarakat. Penasaran dengan (katanya) kehidupan purba yang pernah hadir di tatar Sunda. Bahkan tidak sedikit yang menduga (dan berharap) bahwa situs ini nantinya bisa menyaingi kebesaran piramid. Dan kalau hal itu terjadi, tentunya kita pun bangga bahwa nenek moyang kita pun pernah memiliki peradaban yang tak kalah dengan bangsa lainnya.

Pencapaian Lokasi
Berkunjung ke situs Gunung Padang lumayan mudah. Letaknya berada di jalan raya Cianjur-Sukabumi. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui dari Jakarta. Kita bisa melalui Sukabumi lalu berbelok ke arah Cianjur. Atau sebaliknya melalui Puncak, Cianjur dan akhirnya berbelok ke arah Sukabumi.

Kondisi jalan cukup bagus dengan papan penunjuk arah yang cukup jelas. Dijamin wisatawan kecil kemungkinannya tersesat menuju lokasi. Tapi sayang selepas jalan utama, jalan kampung sepanjang kurang lebih 20 km menuju lokasi banyak rusak dan tidak nyaman. Kecuali menjelang 6 kilometer terakhir yang lumayan bagus. Berita baiknya adalah adanya transportasi umum angkutan pedesaan selepas jalan utama. Jadi pengunjung yang tidak membawa kendaraan sendiri cukup naik angkutan pedesaan.



Tapi nggak usah kecewa dengan kondisi jalan yang buruk. Berita baiknya di beberapa bagian, kita bisa menikmati pemandangan yang memanjakan hati.



Bersih dan Terawat
Memasuki kawasan Gunung Padang, saya mendapatkan kesan bersih dan terawat. Entahlah, mungkin juga karena sebagai kawasan pariwisata masih terbilang baru. Jadi masih serba rapi dan teratur. Tempat parkir yang tersedia cukup menampung puluhan mobil. Kamar mandi, toilet dan mushola tersedia. Warung-warung pun tertata rapi. Hanya sayangnya kesadaran pengunjung masih kurang. Masih sering dijumpai sampah berserakan dimana-mana.


Dari tempat parkir, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga mencapai pintu gerbang situs megalithikum ini. Harga karcis masuk ke dalam 2000 rupiah. Pengunjung bisa meminta jasa pemandu jika menginginkan.

Perjalanan ke atas menuju situs cukup terjal. Tapi syukurlah sudah ada tangga batu yang memadai untuk menuju puncak.


Situs Megalithikum
Sesampai di atas, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan morfologi daerah sekitar yang indah luar biasa. Sayangnya waktu kami berkunjung, cuaca sedang tidak bersahabat. Kabut menutupi gunung-gunung di sekitar Gunung Padang. Konon kalau kita memandang puncaknya, maka situs ini menghadap ke arah Gunung Gde.

Selain pemandangan indah, di sini pun akan kita dapat pemandangan yang tidak lazim yaitu banyaknya batuan-batuan berbentuk balok yang tersebar di ketinggian gunung. Karena itu hal ini menimbulkan pro dan kontra tentang tempat ini. Ada yang beranggapan tempat ini merupakan tempat pemujaan yang usianya  jauh lebih tua dari Candi Borobudur.


Selain batuan yang mungkin menjadi bagian dari suatu bangunan masa lampau, di sini juga bisa ditemukan struktur tangga seperti tempat pemujaan. Adapulan menhir dan dolmen yang dipercaya merupakan sarana untuk meletakkan persembahan pada jaman dahulu. Sayangnya tidak ditemukan adanya prasasti yang bisa digunakan untuk menguak misteri yang ada di Gunung Padang.

Minggu, 22 Desember 2013

Menikmati Car Free Day di Bogor

Car Free Day atau CFD sepertinya sudah menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Lazimnya setiap minggu pagi, suatu ruas jalan utama akan ditutup untuk memberi kesempatan pada masyarakat untuk merasakan suasana santai. Tanpa asap dan suara kendaraan bermotor. Di Jakarta kawasan CFD ditetapkan di jalan Sudirman, sedangkan di Bandung dipilih daerah Dago atau jalan Juanda.

Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, kawasan CFD ditetapkan di sekitaran lapangan Sempur. Jalan ini termasuk jalan utama yang menghubungkan tiga jalan besar yaitu jalan Pajajaran, jalan Juanda dan jalan Sudirman. Sebenarnya nama jalannya sendiri adalah jalan Jalak Harupat, tapi warga lebih mengenalnya dengan kawasan Sempur karena keberadaan lapangan Sempur di tepi kali Ciliwung.

Di hari biasa, jalan ini selalu ramai. Bahkan ada kalanya macet. Saat pelaksanaan CFD, jalan ini akan ditutup dari jam 6 pagi hingga jam 10 pagi. Tidak terlalu lama seperti kawasan CFD di daerah lainnya.



Walaupun jarak kawasan CFD di Bogor bisa dibilang pendek, namun suasananya sungguh mengasyikkan dibanding kawasan CFD di kota lain. Hal tersebut dikarenakan kehadiran pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan jalan. Tak heran karena berseberangan dengan lapangan Sempur adalah kawasan Kebun Raya Bogor.

Lihatlah keasyikan para pengunjung menikmati suasana CFD. Ada yang memilih berolahraga di sekitaran lapangan Sempur namun tak sedikit juga yang hanya sekadar berjalan-jalan. Tentu saja peluang ini dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk menggelar dagangan mereka. Bahkan bisa dibilang jumlah warga yang sedang berolahraga kalah banyak dibanding jumlah warga yang sedang berbelanja atau minimal cuci mata melihat barang-barang yang dijajakan.



Apa saja barang yang dijual di sini? Apa saja ada, mulai dari baju, celana, sepatu, peralatan rumah tangga, mainan anak, pokoknya segala macam ada. Para pedagang juga sepertinya berasal dari berbagai kalangan. Ada yang memang berprofesi sebagai pedagang, di hari lain mereka memang berjualan di tempat lain. Namun banyak juga pedagang dadakan. Bahkan tak sedikit kalangan muda, mungkin mahasiswa atau pelajar sekolah menengah, yang mencoba berdagang di kawasan ini.

Tidak hanya pedagang, beberapa komunitas juga kerap menggelar acara di sekitaran kawasan ini. Mulai dari komunitas bersepeda, fotografi, penggiat kebersihan hingga kalangan aktivis dakwah. Semuanya berlomba menarik perhatian para pengunjung.

Lapar atau haus tak usah khawatir. Beberapa pedagang makanan dan minuman juga kerap memenuhi kawasan ini. Hanya satu yang disayangkan, masalah sampah dan kebersihan. Sepertinya orang Indonesia memang belum banyak yang menyadari pentingnya masalah ini. Sungguh sangat disayangkan.

Oh iya jangan lupa sebelum meninggalkan kawasan ini untuk berfoto sejenak di depan istana atau dekat rusa istana. Ya, hitung-hitung sebagai bukti otentik kalau Anda pernah hadir di kota ini :)



Sajian Kuliner Khas Makassar (1)

Masing-masing daerah selalu memiliki sajian kuliner khas, tak terkecuali di Makassar. Pisang ijo, coto dan konro adalah sebagian dari kekayaan kuliner makassar yang terkenal. Bila dibilang, kuliner ini bahkan sudah menyebar ke beberapa kota besar. Pisang ijo, misalnya, dengan mudah ditemui di beberapa pusat jajanan kota besar.

Walau sudah menyebar ke berbagai daerah, tentu saja lebih afdal rasanya jika mencicipi kuliner khas di daerah asalnya sendiri. Terasa lebih memuaskan. Mungkin juga karena pengaruh suasana.

Kuliner apa saja yang bisa ditemui di ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ini? Berikut beberapa di antaranya.

1. Coto Makassar.
Coto Makassar atau Coto Mangkasara (pelafalan Makassar dalam dialek setempat) adalah semacam masakan soto dengan isi daging (atau jeroan). Selain bumbu dasar seperti lazimnya soto, pembeda coto adalah pada penggunaan sereh, kacang tanah dan tauco. Penyajiannya biasa ditempatkan dalam sebuah mangkok kecil beralas piring. Makannya bisa dengan nasi maupun dengan ketupat.


2. Konro
Selain coto, masakan daging berkuah lainnya adalah konro. Bedanya kalau coto menggunakan daging maka konro menggunakan daging bagian iga. Penyajiannya pun menyertakan iga. Kalau dulu konro disajikan berkuah, kini varian barunya dinamakan konro bakar. Jadi iga sapi yang sudah empuk dibakar (tepatnya dipanggang) dan disajikan bersama bumbu kacang, jadi rasanya mirip sate. 


3. Mie Titi
Makanan ini sebenarnya termasuk jenis baru makanan di Makassar. Bagi penggemar chinese food, kuliner satu ini pasti terasa akrab. Betul, kenampakan maupun rasanya mendekati ifumi. Mie yang digunakan memang biasanya digoreng kering terlebih dahulu. Diatasnya lalu disiramkan kuah kental panas berisi sayuran dan tambahan lainnya seperti bakso dan daging ayam.



4. Nyuknyang
Mungkin jenis makanan satu ini terdengar aneh. Tapi percayalah, makanan ini sebenarnya sangat mudah kita temui di mana-mana. Bakso, ya itulah nama lain nyuknyang. Terus terang, saya sendiri tidak tahu dari mana penamaan nyuknyang tersebut. Penyajiannya pun mirip dengan penyajian bakso di daerah lain. Perbedaannya mungkin pada cara menikmatinya. Di Makassar, nyuknyang bisa dinikmati dengan ditemani burasa.

Burasa atau buras adalah makanan nasi bersantan dibungkus daun pisang. Rasanya seperti lontong tanpa isi.



5. Nasi Campur
Di daerah lain, jenis makanan ini mungkin bisa disamakan dengan nasi rames. Dalam satu piring, nasi disajikan bersama lauk-pauknya seperti telur, rawon daging beserta sedikit kucuran kuahnya, kering tempe atau kentang, abon dan sebagai pelengkapnya adalah acar ketimun.


Sekarang, pilih mana? Tentu saja semuanya enak. Jadi kalau sempat ke Makassar, jangan lupakan untuk mencoba kelima jenis kuliner khas tersebut. Tentu saja masih banyak kuliner khas lainnya. Yang pasti semuanya enak dan lezat :)

Kamis, 19 Desember 2013

Ngeblog Berhadiah Jalan-Jalan

Siapa sangka tulisan saya ini ternyata dinyatakan sebagai pemenang lomba blog resep sehat yang diadakan salah satu produsen minyak goreng, SunCo. Sebagai hadiahnya, saya bersama lima pemenang lainnya diajak jalan-jalan ke Makassar. Yey...asyik!

Para pemenang lomba blog sehat dan panitia berfoto bersama di Bandara Soeta, Jakarta.

Walaupun bisa dikatakan asli dari Makassar, jalan-jalan kali ini tentu sangat spesial bagi saya. Selain bisa menyempatkan diri menengok orangtua, saya pun berkesempatan mencicipi berbagai hidangan khas tanpa bayar. Alias gratis..tis...tis.... Siapa yang bisa menolak godaan seperti ini :)

Singkat cerita saat tiba di Bandara Hasanuddin, kami pun dijemput panitia setempat. Tak menyia-nyiakan waktu, kami pun langsung diajak makan. Baru nyampe, udah langsung makan lho. Makannya konro lagi. Hmmm, kalau kata orang Makassar, nyamanna.....

Selesai menikmati kelezatan konro bakar dan sup konro, kami pun kembali ke bus. Bersiap menuju hotel. eh ada yang unik di depan tempat makan konro Karebosi ini. Apalagi kalau bukan aksi daeng yang menyiapkan konro. Lihatlah dengan kancing baju terbuka dia asyik membolak-balik daging iga di pembakaran. Lunrana deh itu daeng....



Hari kedua bisa dikatakan hari inti kegiatan ini. Bertempat di Kampung Popsa digelar Sunco Goes to Makassar. Acara ini menghadirkan chef Lucky (juara Master Chef Indonesia 1) dan Marischka Prudence (travel writer). Acara ini dihadiri berbagai komunitas kota Anging Mammiri. Ada komunitas blogger, tak ketinggalan pula komunitas ibu-ibu pencinta kuliner.


Suasananya tentu saja seru. Selain diisi dengan demo masak juga acara bertajuk travel talk. Adapula pengenalan produk Sunco. Tak ketinggalan games seru. Dasar judulnya culinary trip, gamesnya pun tak jauh-jauh dari kuliner. Yup...lomba makan. Beberapa mangkok pisang ijo dan jalangkote disajikan untuk dihabiskan para peserta lomba. Hasilnya lumayan, dapat juara 3. Voucher 200 ribu pun berhasil dikantongi. Eit..nggak jadi 200 ribu ding. Soalnya mesti berbagi dengan peserta satunya lagi. Jadi cuma dapat 100 ribu :)

Acara pengenalan produk juga lumayan seru. Dua orang sukarelawan diminta untuk mencicipi dua jenis minyak goreng yang disajikan. Konon minyak goreng yang baik itu seharusnya bisa diminum, walaupun bukan itu fungsi utamanya. Lihat itu ekspresi mereka girang setelah mencicipi SunCo padahal sebelumnya sempat berkerut kecut saat mencicipi minyak goreng yang lainnya.


Oh iya, para pemenang lomba blog juga menyempatkan diri mejeng bareng. Seharusnya enam orang, kami pun akhirnya hanya foto berlima. Seorang peserta berhalangan hadir. Kami pun berhaha hihi seperti jumpa teman lama. Padahal kelimanya berasal dari 5 kota berbeda yaitu Bogor, Tasikmalaya, Bandung, Jogja dan Makassar.


Di Kampung Popsa ini sebenarnya kami sudah makan kenyang lho. Kan dapat voucher makan seperti tamu undangan lainnya. Sudah itu kenyang dengan jalangkote dan pisang ijo lomba tadi. Tapi lepas dari sini, peserta digiring....makan lagi. Kali ini menuju jalan Serigala. Disana ada makanan terkenal berlabel Pallubasa Serigala. Penampakannya sih mirip sup atau soto. Tapi tentu saja bukan menggunakan daging serigala :P

Siapa yang tak kenal ikon Makassar, Pantai Losari. Tidak afdal rasanya mengunjungi Makassar kalau tidak menyempatkan diri ke sini. Waktunya pun pas, saat matahari akan tenggelam. Selain bisa menikmati pemandangan indah, kami pun bisa merasakan interaksi dengan masyarakat yang sedang menantikan sunset juga.

Sajian makan malam terakhir di kota Makassar  didominasi aneka seafood. Wow...sebagai pecinta seafood, saya tentu saja sangat senang. Bayangkan saja mulai dari kerang, cumi, kepiting, ikan kerapu, hingga ikan kudu-kudu memenuhi atas meja makan kami. Cah kangkung spesial menemani nasi pulen di piring masing-masing peserta. Apalagi sambalnya, komplit...plit.... Beda dengan penyajian biasanya, disini sambal disediakan dalam berbagai variasi. Sebuah piring kecil memudahkan pengunjung restoran untuk meracik sambalnya sendiri.



Tiada perjalanan tanpa akhir. Demikian pula dengan culinary trip ini. Hari ketiga kami di Makassar, sebelum pulang ke kota masing-masing, kami seolah diantar pulang oleh lambaian ikan dalam kuah pallumara. Rasanya yang ringan serta warnanya kuning menarik seolah mengingatkan setiap peserta untuk selalu kembali ke Makassar.

Selamat jalan Makassar. Terimakasih SunCo.

Jumat, 27 September 2013

Merah Putih Kuning Tradisi Sehat Keluargaku

Makanan merupakan salah satu kunci kesehatan yang baik. Prinsip tersebut dianut banyak orang dan merupakan prinsip kuat tak terbantahkan. Segala sesuatu yang kita konsumsi merupakan aset kesehatan yang sangat berharga.

Aku bukan termasuk ibu yang rajin masak. Tapi aku menyadari pentingnya makanan sehat. Walaupun bisa dibilang seharian aku di rumah, tapi kesibukanku sering menjadi penghalang untuk rutin memasak. Kesibukanku itu antara lain mengajar murid les (kebetulan aku buka les privat di rumah), tugas domestik (sudah setahun aku nggak punya ART jadi segala sesuatunya kukerjakan sendiri. Kalaupun ada ART biasanya untuk urusan masak tetap kulakukan sendiri), menulis buku dan tugas sebagai ibu (tiap hari aku masih menyempatkan diri menjemput kedua anakku).

Tips dan Trik Memasak dari Si Super Sibuk

Tentu saja dengan kesibukan yang sedemikian banyak (judulnya Si Super Sibuk, hehe....), aku harus pintar-pintar bersiasat untuk urusan menyediakan makan. Beberapa cara yang kulakukan, antara lain :

1. Aku belanja tidak setiap hari. Biasanya sekitar 2 -3 hari. Setelah dicuci bersih, aku sisihkan ayam, ikan dan daging dalam wadah berbeda. Selain supaya rasanya tidak terganggu, juga untuk memudahkan saat pengambilan ketika akan dimasak.

Makanan dipisahkan sesuai jenisnya (sumber foto : pribadi)

2. Menyusun menu efektif. Aku memang tidak menuliskannya, tapi saat berbelanja biasanya aku sudah bisa membayangkan menu untuk 2-3 hari ke depan. Misalnya saat aku beli wortel 1/2 kilo, berarti akan ada sekitar 2-3 jenis masakan yang akan menggunakan wortel. Misalnya hari pertama sop dan hari kedua dengan bahan wortel tersebut akan tersaji cap cay. 

Atau membeli kacang panjang maka hari akan hadir oseng kacang panjang dan tempe. Adapun hari berikutnya bahan yang sama tersebut akan hadir dalam bentuk sayur asam atau sayur lodeh. Tentu saja dengan tambahan sayuran pelengkap lainnya. Cara ini efektif menghindari mubazir pada bahan makanan.

3. Memasak sesuai perkiraan sekali makan. Aku selalu menghindari memasak dalam jumlah banyak. Maksudnya supaya makanan masih segar dan tidak perlu terlalu sering dihangatkan. Makanan yang dihangatkan selain menghilangkan kandaungan gizinya, tidak menutup kemungkinan adanya bakteri atau organisme yang tidak diinginkan tumbuh disitu. Aku nggak pernah masak untuk makan siang, kecuali sabtu minggu atau hari libur. Karena hari biasa kan bisa dibilang tidak ada orang di rumah selain aku. Biasanya suami dan kedua anakku sudah berangkat ke kantor dan  sekolah masing-masing. Aku masak biasanya di pagi hari untuk sarapan dan bekal. Masak gelombang kedua di waktu malam untuk makan malam.

4. Karena bisa dibilang sibuk dan kadang sulit menyempatkan waktu berurusan dengan bumbu maka aku selalu menyiapkan bumbu siap jadi dalam kulkasku. Bumbu itu adalah bumbu merah, putih dan kuning. Merekalah 3 sekawan Si Merah, Si Putih dan Si Kuning yang membantu tradisi sehat dalam keluargaku.

3 sekawan yang menjadi tradisi sehat keluargaku (sumber foto : pribadi)

Mengenal Si Merah, Si Putih dan Si Kuning

Saat pertama kali berumah tangga, terus terang aku bukanlah orang yang bisa masak. Suka juga tidak. Awalnya kurasakan hanya sebagai tuntutan. Nah saat itu aku kadang bermodalkan buku resep. Setiap kali masak, walaupun masakan sederhana, pasti mengandalkan resep. Bahkan untuk masak sederhana seperti sayur asem atau ungkep ayam.

Nah saat seperti itulah aku menyadari kalau bumbu Indonesia itu sebenarnya tidak sulit. Hanya berputar di sekitar bawang merah dan bawang putih saja. Tentu dengan tambahan atau variasi lainnya.

Di saat bersamaan aku pun mengenal Si Merah, Si Putih dan Si Kuning ini. Ya, sebenarnya yang kumaksud dengan 3 sekawan ini adalah sistem bumbu dasar yang banyak dikenal di dunia kuliner Indonesia.

Ada banyak sekali keuntungan yang kurasakan dengan menerapkan 3 sekawan ini saat memasak. Keuntungan tersebut antara lain :

1. Tidak perlu repot saat persiapan memasak.

Bayangkan kerepotan yang harus kulakukan saat di pagi hari harus mengulek bumbu. Sementara waktu berkejaran mempersiapkan suami ke kantor dan anak-anak ke sekolah. Belum lagi kalau aku harus mengajar pagi hari. Nah dengan adanya Si Merah, Si Putih dan Si Kuning ini aku tinggal mengambil di kulkas. Menakarnya sesuai keperluan dan masak deh. Oh iya, sudah kubilang kan kalau bahan lainnya seperti lauk dan sayur sudah dibersihkan sebelum masuk kulkas.

2. Tidak terpengaruh kenaikan harga. 

Keuntungan lain yang kurasakan adalah aku jarang terkena apa yang dinamakan gejolak kenaikan harga seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Misalnya waktu harga bawang atau cabe merah kemarin sempat membumbung tinggi, kebetulan aku masih punya stok bumbu di kulkas. Jadi saat ibu yang lain mengeluh harus membeli bawang atau cabe dengan harga mahal, aku biasanya hanya tersenyum saja. Curang ya, hihi...peace!

Membuat bumbu biasanya memang butuh perencanaan. Aku biasanya survei harga dulu. Kalau harga sudah lumayan turun, aku biasanya segera bikin bumbu lagi.  Nah tentu ada pertanyaan, bagaimana jika aku malah kehabisan  pas bumbuku habis? Heheh, biasanya aku menunda membuat bumbu. Jadi aku biasanya cukup membuat sekadarnya, sambil menunggu perkembangan harga terbaru. Biasa khas ibu-ibu, nggak mau rugi.

3. Lebih murah dan terjamin higienitasnya.

Di pasaran memang banyak beredar bumbu jadi.  Baik yang dikemas sederhana maupun dikemas pabrik. Menurutku sih lebih higienis bikin sendiri. Aku bisa memastikan bahwa bahan-bahan yang kugunakan terbaik dan bukan bahan yang sudah tidak layak. Katanya kan banyak tuh saat harga bumbu naik, pedagang bumbu menggunakan cabe yang sudah tidak layak pakai. Bukan berarti aku menuduh ya, tapi kenyatannya memang begitu.

Belum lagi ditempat seperti itu biasanya higienitas kurang terjaga. Baik kontaminasi dari lingkungan maupun dari peralatan yang digunakan. Kontaminasi juga bisa berasal  dari tangan yang tidak bersih.

Memang ada juga sih bumbu buatan pabrik, tapi aku tidak begitu tertarik menggunakanya. Selain karena harganya yang relatif lebih mahal juga tetap ada kemungkinan mengandung pengawet. Bayangkan harganya bisa minimal 5 kali lipat dibanding kalau kita bumbu sendiri.

4. Bisa menjadi penyelamat di saat apapun.

Karena sifatnya yang praktis, 3 sekawan ini juga bisa menjadi penyelamat keluarga kami. Misalnya saat kedatangan tamu menginap dan kami tidak punya makanan maka tidak diperlukan waktu lama untuk menyiapkannya.

Si Merah bahkan tak jarang menjadi penyelamat kami di tengah malam. Saat lapar menyerang, aku biasanya tinggal mengeluarkan nasi dan jadilah nasi goreng spesial. Eh jangan salah lho, kata anakku sih nasi goreng buatanku lebih enak rasanya dibanding nasi goreng yang banyak dijajakan di pinggir jalan.

Karena sifatnya sebagai penyelamat ini, aku sudah berpesan pada anakku. Jika mereka kelak harus hidup sendiri karena kost atau sudah berumahtangga pun, aku menyarankan untuk membawa tradisi keluargaku ini.

5. Membantu saat menghadapi hari-hari istimewa.

Si Merah, Si Putih dan Si Kuning tidak hanya membantu di hari-hari biasa. Bahkan di saat istimewa seperti lebaran, ketiganya berguna sekali. Kayak kemarin aku cukup menggunakan bumbu kuning dan bumbu merahku untuk membuat rendang. Aku tinggal menambahkan bumbu-bumbu tambahan seperti daun kunyit, kapulaga, pala, dan lain-lain yang lazim digunakan dalam masakah daging.

Sebagai catatan tentu saja bumbu merah yang kugunakan tanpa tambahan terasi seperti bumbu merahku sehari-hari. Kebayang kan kalau rendang berasa terasi. Hihi...

Persiapan Membuat Si Merah, Si Putih dan Si Kuning

Oh iya, pasti sudah ada yang penasaran tentang resep ketiga andalanku ini. Nah untuk keperluan itu, silakan untuk hunting tentang bumbu dasar ini. Tinggal ketikkan kata kunci bumbu dasar merah maka ada banyak sekali info tentang hal itu. Begitupula dengan dua temannya yang lain.

Selain berburu di internet, beberapa buku masakan juga sering membahas tentang tradisi ketiga bumbu dasar ini. Jadi nggak sulit kok menemukannya. Sst...orang aku hasil nyontek di buku resep kok. Hehehe....

Bisa dibilang semua masakan asli Indonesia bisa dimasak dengan sistem bumbu dasar ini. Misalnya sayur lodeh, menggunakan bumbu putih, atau kalau terong balado dan kentang balado bisa menggunakan yang merah. Tapi aku kadang bereksperimen. Misalnya mau membuat ayam bakar, aku mengungkep ayamnya dengan perpaduan si merah dan kuning. Warnanya jadi menarik dan rasanya gurih-gurih pedas gitu. Enak....

Saat membuat bumbu aku biasanya lebih suka menuangkan langsung minyak saat memblender dibanding menumis cara biasa. Tujuannya selain menghilangkan pemakaian air berlebih juga membantu penggilingan.

Penggunaan bahan berkualitas menghasilkan bumbu dasar yang awet dan tahan lama (sumber foto : pribadi)

Setelah bumbu selesai dihaluskan, barulah dimasukkan ke wajan. Masak bumbu beberapa saat sambil sesekali diaduk supaya tidak gosong. Tunggu sampai bumbu berbau harum dan adonan agak meletup. Matikan kompor. Tunggu sampai bumbu dingin. Masukkan ke dalam wadah tertutup dan simpan dalam lemari pendingin.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan saat membuat Si Merah, Si Putih dan Si Kuning

1. Pilih bahan-bahan berkualitas. Cuci bersih semua bahan setelah dibersihkan. Tiriskan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar airnya.

Bahan dasar membuat Si Kuning (sumber foto : pribadi)

2. Jangan lupa cuci tangan yang bersih. Pastikan pula kebersihan blender dan wajan yang digunakan.

3. Gunakan minyak yang terjamin kualitasnya.

Seperti prinsipku yang menggunakan bahan segar terbaik, SunCo pun ternyata memilih kelapa sawit terbaik untuk bahan dasarnya. Pengolahan dilakukan tidak lebih dari 24 jam setelah sawit dipanen. Hasilnya minyak goreng dengan minyak jenuh terendah dibanding yang lainnya. Karena itu SunCo tidak mudah beku dan meminimalkan peningkatan kolesterol.

Selain untuk menggoreng, SunCo selalu kugunakan untuk menumis ketiga bumbu dasar. Memang penggunaan minyak yang tepat merupakan salah satu unsur terpenting. Menggunakan minyak yang kurang tepat bisa menyebabkan bumbu berbau tengik jika terlalu lama disimpan. Untunglah selama ini aku menggunakan SunCo dan hasilnya 3 sekawan andalanku itu selalu bebas dari gangguan rasa tidak sedap.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan






Rabu, 10 Juli 2013

Pelatihan Menulis Young Explorers

Berbeda dengan pelatihan menulis biasanya, kali ini saya berkesempatan mengisi sebuah pelatihan menulis bertema Young Explorers. Tentu saja, dari judulnya saja, terasa kalau nuansa pelatihan kali ini pasti penuh dengan petualangan dan kejutan-kejutan. Peserta pelatihannya tentu saja anak-anak, namun banyak diantara mereka yang datang dengan didampingi orangtua. Bahkan ada yang komplit dengan kakek, nenek, sepupu dan pembantu! Seru juga karena seperti acara piknik keluarga besar. Lumrah, karena acara ini memang diniatkan sebagai pengisi liburan.

Kejutan pertama adalah saat pemberangkatan. Ya, beberapa peserta, terutama anak, sempat terperangah saat sampai ke dermaga. Bayangan naik kapal yang tadinya terasa menyenangkan dan bisa bersantai ternyata harus dilalui dengan suasana hiruk pikuk dan berdesakan. Maklum saja, pekan ini memang adalah pekan terakhir sebelum memasuki Ramadhan, jadi antusiasme wisatawan memang sangat luar biasa. Apalagi kapal yang digunakan adalah 'kapal rakyat'. Bahkan ada teman yang berseloroh menamakannya kapal Nabi Nuh. Saking penuh dan beraneka ragam isinya :)




Suasana panas dan mabuk laut hampir dirasakan oleh sebagian besar peserta. Tapi semuanya langsung menguap ketika kapal mendarat di Pulau Pari. Suasana petualangan langsung terasa. Pantai berpasir, pepohonan yang rimbun, jalan setapak yang membelah di tengah pulau dan keheningan tanpa kendaraan bermotor sangat mengundang rasa penasaran untuk mulai bertualang. Kemana-mana, semua peserta dibekali sepeda. Jadi rasanya seperti Lima Sekawan deh.

Setelah diantar ke penginapan masing-masing, makan siang, pelatihan pun dimulai. Oh iya selain pelatihan menulis, penyelenggara juga menawarkan pelatihan fotografi untuk anak. Karena itu, sesuai peminatan, anak-anak pun lalu dibagi berdasarkan kelompoknya.



Usai sesi pelatihan, anak-anak pun dibebaskan berekplorasi. Banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari bermain ombak di antara pepohonan bakau Pantai Keresek atau bermain pasir di Pantai Perawan. Nah jarak kedua tempat ini lumayan jauh karena masing-masing letaknya di ujung masing-masing pulau. Jadi anak-anak harus mengayuh sepeda membelah pemukiman. Seru!

Karakteristik pasir di Pantai Perawan memang sangat unik. Mengundang kita untuk merasakan sensasinya diantara genggaman tangan maupun di telapak kaki. Karena itu tak sedikit pengunjung yang memilih duduk beralaskan pasir sambil memandang matahari terbenam. Acara malam lalu dilanjutkan dengan barbecue. Sempurna! Setelah merasakan lelah seharian, bermain pasir, berenang di pantai lalu merasakan sensasi ikan laut bakar.



Menyaksikan matahari terbit di Dermaga Pulau Pari membuka hari kedua para Young Explorers. Cuaca cerah, padahal beberapa hari sebelumnya Jabotabek dan sekitarnya selalu diguyur hujan. Setelah sarapan, petualangan hari kedua pun dimulai. Kali ini snorkeling di sekitar Pulau Tikus. Tentu saja para peserta tidak melewatkan acara melihat langsung kehidupan alam di bawah permukaan air. Menyaksikan karang-karang dan ikan yang seliweran berenang. Oh iya, sebelumnya para peserta sudah berpasangan antara 'fotografer' dan 'penulis' untuk menghasilkan satu artikel yang mengeksplorasi keindahan Pulau Pari.

Sayang, semua keceriaan harus segera diakhiri. Para peserta pun bersiap meninggalkan pulau. Bayangan kesumpekan di kapal kembali harus dihadapi. Tapi itulah keseruannya! Berebut naik kapal, desak-desakan dan 2 jam kemudian udara Jakarta kembali terhirup. Alhamdulillah.

Terimakasih buat peserta dan keluarganya. Acungan jempol deh untuk kalian! Terimakasih untuk penyelenggara Epsilon Society dan Keluarga Besar Alumni  ITB di Bogor. Nggak sabar deh menunggu petualangan berikutnya!



Sabtu, 22 Juni 2013

[Bukuku] Sukses Juara Olimpiade Sains

Entah, ini buku yang keberapa. Mungkin sekitar 35-an. Saya memang jarang menghitung pasti jumlah buku yang sudah terbit. Pun sulit mengkoleksi fisiknya, karena ada beberapa buku yang memang tidak ada bukti terbitnya. Biasanya sih itu buku-buku pengayaan yang 'niatnya' diikutkan dalam proyek tertentu.


Judul : Sukses Juara Olimpiade Sains

Penulis : Firmanawaty Sutan

Penerbit : Be Champion (Grup Penebar Swadaya)

Tahun : 2013



Buku ini berisi profil berbagai juara olimpiade sains, mulai dari astronomi, fisika, kimia, matematika, kebumian dan biologi. Dari buku ini, kita dapat belajar banyak dari perjuangan para pahlawan bangsa ini. Mereka adalah anak-anak muda, generasi penerus bangsa, yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Sebagian dari mereka tidak berasal dari kota-kota besar tapi terbukti mampu bersaing. Ini membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat luar biasa. Mereka pun tersebar, tidak hanya terpusat di kota atau satu pulau tertentu saja.

Walaupun menyandang predikat juara, sikap mereka tetap rendah hati. Saat diminta untuk sharing di buku ini, beberapa diantaranya bahkan merasa belum pantas untuk diprofilkan. Tapi ketika saya katakan bahwa ini bisa menjadi motivasi bagi teman-teman lainnya, mereka pun antusias berbagi.

Sebagian besar anak-anak bangsa ini mendapat beasiswa, dalam dan luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan tinggi mereka. Semoga mereka tidak 'lupa' untuk kembali ke negerinya dan berbakti untuk bangsanya.

Selasa, 21 Mei 2013

(Resensi Buku) Lola yang 'Lola'


Judul : Lola yang ‘Lola’
Genre : Novel Anak
Penulis : Dian Kristiani
Penerbit : Al Kautsar Kids
Jumlah : 122 halaman

Tak banyak penulis yang mampu menghadirkan kelucuan pada sebuah cerita anak. Inilah salah satu penyebab kurangnya buku-buku anak bertema lucu. Karena itu patut diacungkan jempol pada Dian Kristiani yang berani berekplorasi membuat sebuah buku yang diharapkan lucu bagi anak-anak. Tak mudah menebak lucu yang sesuai untuk anak. Sesuatu yang menurut orang dewasa lucu, belum tentu lucu bagi anak. Demikian pula sebaliknya.
Kelucuan di buku ini dibangun dari karakter Lola yang digambarkan ‘lola’ alias telmi dan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari Mommy, Daddy, teman-temannya, Bi Yem, guru kelas, kepala sekolah hingga satpam. Sang penulis dengan jeli menangkap peluang yang diharapkan bisa memancing kelucuan.
Dian Kristiani adalah salah satu penulis buku anak yang produktif. Karyanya bertebaran di beberapa penerbit besar Indonesia.  Kebanyakan berupa cerita bergambar dan kumpulan dongeng / cerita. Meskipun harus diakui bukan hasil karyanya yang terbaik tapi Lola yang ‘Lola’ (mungkin) satu-satunya hasil karyanya yang diklaim sebagai novel sesuai dengan genre yang dicantumkan di pojok kanan atas buku.
Sekilas dilihat dari penampilan fisik, buku ini memang menyerupai kenampakan novel anak.  Namun apabila dicermati lebih jauh, buku ini lebih tepat jika digolongkan sebagai kumpulan cerita (sangat) pendek.
Model penulisan buku ini memang tidak biasa untuk sebuah buku anak. Bentuknya seperti naskah drama. Ali Muakhir, salah satu penulis buku anak terkenal, sebelumnya juga pernah mencoba membuat buku bertema lucu (Seri Funny Stories, 2009). Isinya kumpulan fabel (sangat) pendek tapi dengan format penulisan biasa, seperti layaknya sebuah cerita. Dian mengakui bahwa bentuk penulisan seperti ini terinspirasi dari dua buku dewasa bertema humor yang telah ditulis sebelumnya.
Model penulisan seperti ini mengakibatkan karakter tokoh-tokohnya tidak bisa terbangun dengan baik karena hanya berupa penggalan cerita. Penulis pun memberikan semacam panduan karakter para tokohnya pada bagian awal buku. Konsekuensinya tentu saja pembaca harus rela membolak-balik halaman tersebut untuk mengenali tokoh yang diceritakan.
Model penulisan seperti ini bisa mempertahankan kelucuan di setiap cerita. Jika penulisan dipaksakan utuh dalam beberapa halaman, mungkin kelucuannya justru jadi terasa berkurang. Kelebihan lainnya adalah buku bisa dibaca dalam sekali duduk, tanpa perlu membatasi halaman. Karena satu cerita bisa selesai dalam beberapa menit dan tidak berhubungan dengan cerita berikutnya. Membacanya pun bisa berulang-ulang, karena ada cerita yang justru terasa lucu ketika sudah dibaca lebih dari sekali.
Beberapa ide cerita terasa fresh dan orisinal , misalnya perbincangan Lola dan Mommy dalam Ayam (hal 28). Beberapa cerita terasa sebagai pengulangan humor yang sering beredar di masyarakat, misalnya dalam cerita Keturunan ke Berapa (hal 72). Walaupun sebagian besar humor yang disajikan masih dirasakan pas untuk usia anak, sayangnya ada sedikit yang terasa ‘dewasa’. Misalnya pada cerita berjudul Sex (hal 44) dan Drama Queen (hal  97).
Cerita diakhiri dengan kesedihan Lola karena meninggalnya sang nenek. Di sinilah kepiawaian sang penulis menciptakan kelucuan kecil sekalipun di saat sedih. Pembaca bisa merasakan hidup yang penuh rasa. Suka dan duka, senang dan sedih, kehidupan dan kematian memang bagai sebuah kepingan uang logam.

Peresensi : Firma Sutan
Resensi ini diikutkan pada Lomba Resensi yang diadakan oleh 

(Resensi Buku) Cleo, The Savior of Volanian


Judul : Cleo, The Savior of Volanian
Penulis : Ina Inong
Genre : Novel
Penerbit : Penerbitan Pelangi Indonesia
Tahun : 2013
Jumlah : 204 halaman


Cleo kesal, kegemarannya bermain game komputer terhalang. Papa menghukumnya karena menilai Cleo terlalu banyak bermain game. Dia pun lalu mencoba berbagai cara agar bisa memainkan game andalannya, The Creator.
Kekesalannya makin memuncak karena karakter pada game yang diciptakannya hilang. Padahal dia berniat mengikut sertakan karakter dan setting  yang diciptakannya dalam kompetisi yang diadakan perusahaan pembuat game.
Ina Inong, sang penulis, sangat jeli menangkap gejala yang sering ditemukan saat ini. Siapa sih anak yang tidak suka bermain game online? Anak-anak seperti ini diwakili oleh Cleo. Penulis pun menghadirkan tokoh Corine, sang belieber, sebutan untuk penggemar Justin Bieber. Kedua karakter ini terasa begitu dekat dengan dunia keseharian anak jaman sekarang.
Cleo akhirnya menemukan penyebab dari hilangnya karakter pemainnya. Secara tak sengaja dia berjumpa dengan Oguz, panglima tinggi negeri Volan. Karakter dan negeri yang diciptakan Cleo dalam gamenya.
Kehadiran kembali bangsa Volanian ini menimbulkan dendam Lord Arthus, tokoh Foreon, lawan bangsa Volanian. Dia ingin memusnahkan kembali negeri tersebut. Dia bahkan bisa menyusup dalam kehidupan nyata, menjadi calon walikota terkuat dan berencana menghancurkan perpustakaan tua, tempat pengungsian sementara bangsa Volanian.
Konon salah satu unsur yang menjadikan sebuah buku anak berhasil adalah jika pemecahan masalah dilakukan oleh sang anak, dan bukan semata mengandalkan orang dewasa. Pendekatan seperti ini dilakukan dengan sangat jitu oleh penulis. Diangkat sebagai oddar, sang penyelamat, Cleo berusaha menghalangi usaha Lord Arthus. Mulai dari mengerahkan teman-temannya berdemo (hal 96), menemui Pak Walikota (hal 100) dan calon walikota saingan Lord Arthus (hal 105) hingga akhirnya menyusup masuk ke Volanian.
Pertempuran dalam cerita digambarkan heroik dan seru namun tak ada satupun adegan kekerasan yang mengumbar darah. Karena digambarkan bangsa Foreon terbuat dari api maka bangsa Volanian melawannya dengan air. Sebuah usaha cerdik Ina untuk menghindari adegan kekerasan. Bahkan saat Cleo akhirnya memberi senjata pada bangsa Volanian, dia memilihkan pistol air (hal 203).
Saat lauching novel ini, penulis menceritakan alasannya memilih setting Andalusia karena ingin menghadirkan kejayaan Islam di masa lampau (Story edisi 44, Mei 2013). Niat yang sangat baik namun sepertinya tidak berhasil karena yang tercipta justru gap antara dunia nyata dan dunia game. Bahkan kadang terasa janggal, misalnya saat Oberon menyimpan shrinkipopis di suatu mesjid. Ini menimbulkan tanda tanya, apakah itu berarti Oberon (pemimpin spiritual) adalah seorang muslim? Padahal tak pernah sekalipun diceritakan agama dan keyakinan bangsa Volanian.
Secara umum buku ini sangat menarik. Tidak banyak penulis lokal yang berhasil membuat novel fantasi yang tidak melenceng jauh dari logika umum. Tampilan fisik buku juga sangat menarik. Covernya mampu mengundang fantasi tersendiri. Salut!

Peresensi : Firma Sutan
Resensi ini diikutkan pada lomba yang diadakan 



Rabu, 01 Mei 2013

Pelatihan Menulis Anak Bersama WTC

Sudah beberapa kali bekerja sama dengan Writing Training Centre mengadakan pelatihan menulis, kali inipun kerjasama terjalin kembali. Semuanya berawal dari permintaan beberapa peserta saat pelatihan sebelumnya. Waktu itu beberapa orangtua mengharapkan pelatihan yang lebih intensif. Bahkan beberapa anak ternyata sudah mulai menghasilkan tulisan. Dan rupanya mereka berkeinginan tulisan mereka itu dapat diterbitkan dalam bentuk buku.


Pelatihan diadakan selama 2 hari. Hari pertama, saya memperkenalkan kepada para peserta tentang unsur-unsur dalam sebuah cerita. Mereka pun diminta untuk mengenal unsur-unsur tersebut dalam sebuah cerita ataupun film singkat. 

Pada hari kedua, peserta pelatihan lebih banyak melakukan praktik menulis. Mulai dari menuliskan kembali cerita yang mereka baca, menuliskan ide mereka sendiri dan menulis kreatif. Saya pun menyelipkan permainan sederhana namun menarik dan masih berhubungan dengan dunia menulis yaitu dengan meminta para peserta membuat cerita berantai.

Pada sesi kedua ini juga, saya mengenalkan pada anak teknik menulis yang tepat. Mereka jadi tahu cara menset tulisan mereka menggunakan word yang lazim digunakan dalam dunia menulis. Tujuannya untuk menjadikan tulisan mereka enak dipandang oleh editor saat naskah mereka masuk ke penerbit. Karena tujuan pelatihan ini memang dimaksudkan untuk membantu menerbitkan naskah para peserta.

Semua peserta nampak sangat menikmati kebersamaan selama dua hari itu. Mereka banyak mendapat ilmu, bermain, bercanda dan menemukan teman baru. Bahkan beberapa diantaranya terlihat sangat akrab, bahkan diselingi ledek meledek khas anak-anak. Lihatlah keceriaan di wajah mereka. Semoga dari pelatihan ini akan muncul bibit-bibit baru penulis berbakat. Amin.




Senin, 11 Maret 2013

Pelatihan Menulis Nonfiksi Women Script

Setiap profesi membutuhkan menulis, itu pembuka yang saya sampaikan pada pelatihan menulis nonfiksi yang diadakan Komunitas Women Script. Saat itu peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan dengan profesi berbeda. Mulai dari ibu rumah tangga hingga psikolog. Beberapa yang hadir ada juga penulis dan telah menghasilkan beberapa karya. Bahkan ada seorang bapak yang hadir karena menemani sang istri! Salut :) Berarti bapak itu sangat mendukung istrinya untuk menulis. Tapi saya yakin, ilmunya nggak akan sia-sia kok, Pak. :)


Pembuka itu ternyata berhasil memancing para peserta untuk mengungkapkan hasratnya menulis. Sang psikolog merasa sangat membutuhkan kemampuan menulis. Selama ini, dia memang kerap mengisi berbagai pelatihan psikologi. Dan menurutnya, menulis dapat membantunya untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dia pun merasa, menulis dapat membuatnya meluaskan jaringannya selama ini.

Saya pun membagi pengalaman menulis nonfiksi selama ini. Semua peserta antusias menyimak. Sesekali ada yang mengacungkan tangan hendak bertanya. Senang sekali melihat antusiasme mereka.


Seorang peserta menceritakan pengalamannya berhubungan dengan penerbit. Rupanya dia sempat kecewa karena naskahnya harus bolak-balik mengalami revisi. Saya pun membesarkan hatinya dengan pengalaman serupa yang sempat saya alami. Dan menurut saya itulah salah satu ujian yang dihadapi seorang penulis. Intinya setiap profesi apapun pasti ada kendala, termasuk dunia menulis. Pantang putus asa adalah kunci suksesnya. Teruslah menulis dan jangan patah semangat.

Selasa, 12 Februari 2013

Menulis Pasti Dibayar

Saya baru saja ngutak-ngatik statistik blog ini dan menemukan sesuatu yang menarik di pencarian kata kunci. Ternyata ada satu kata kunci yang sering diketikkan orang yaitu 'apakah menulis di Bobo dibayar'. Jawabannya ya tentu saja. Menulis kan juga pekerjaan. Dan seperti layaknya pekerjaan yang lain, penghargaan berupa materi tentu saja bisa didapatkan. Tapi bukan ini yang akan saya bahas. Melainkan cara pembayaran di media, terutama di Bobo.

Pengalaman saya menulis di majalah Bobo, bayarannya lancar. Tidak lama. Mungkin salah satu penyebabnya  karena saya selalu menyertakan nomor rekening di naskah yang dikirimkan. Kepedean? Memang! :) Saya sih pede saja, naskah itu bakal dimuat. Walaupun kenyataannya memang ada beberapa juga yang tidak dimuat. Tapi menurut saya ini akan memudahkan redaksi dan tentu saja menyenangkan buat penulis. Bisa dibayangkan jika penulis tidak melampirkan nomor rekeningnya, tentu pihak redaksi masih harus menghubungi penulis. Menanyakan nomor rekening, mengkonfirmasi sudah dikirim, dan lain-lain yang pastinya terimbas pada waktu pencairan yang lama.



So, jangan lupa melampirkan nomor rekeningmu ya!  Pede aja lagi :)

Pelatihan Menulis Bersama ITB 89

"Aku mau mengisi pelatihan untuk anak-anak," itu yang pertama kali kutawarkan setelah selesai membaca rencana Lokakarya Kepenulisan ITB 89. Sebagai informasi, komunitas ini beranggotakan para alumni yang pernah tercatat sebagai mahasiswa baru ITB pada tahun 1989. Wow..berapa tahun yang lalu itu *serasa tua deh :)

Lokakaryanya sendiri terbagi dua kelas, kelas dewasa dan kelas anak. Untuk kelas dewasa, tak ada masalah. Seorang pembicara mumpuni telah siap. Tinggal kelas anak-anak. Sepertinya panitia bingung juga mencari orang yang sekiranya bisa bergaul dan akrab dengan anak-anak.

Hari pun tiba. Perjalanan Bogor-Bandung nggak terasa. *thanks tebengannya ya Ratih. Waktu dua jam nggak terasa. Kami ngobrol sepanjang jalan. Seru....

Singkat kata, kami pun tiba di Bandung. Langsung berbaur dengan teman-teman yang sudah datang. Juga mulai berkenalan dengan anak-anak peserta lokakarya. Mereka adalah para 'junior' ITBangkatan 89. Lihatlah wajah-wajah mereka yang sangat antusias mengikuti pelatihan ini.

(foto koleksi rekan Mursid W/ITB 89)

Pelatihan dimulai dengan pengenalan unsur-unsur pembentuk sebuah cerita. Aku mengenalkan pada mereka masalah tema, ide, tokoh, alur dan plot, serta hal-hal yang biasanya ditemukan dalam sebuah cerita. Tak lupa  aku pun mengajak mereka untuk berlatih. Sesekali celetukan segar terdengar di sela-sela pelatihan. Aku memang menekankan pada mereka untuk berani berbuat kesalahan. Karena itu mungkin mereka jadi lebih bebas berekspresi.

Tanpa terasa waktu makan siang tiba. Saking asyiknya menikmati materi yang kuberikan, salah seorang anak menyeletuk," Hah, sudah siang. Kok nggak kerasa ya." Alhamdulillah, itu berarti mereka bisa mengikuti dengan baik. Bahkan ada juga yang bertanya aku tinggal dimana. Ketika kubilang tinggal di Bogor, sepertinya anak itu kecewa banget. Rupanya dia berharap setiap minggu aku mau mengajarinya menulis. Ada juga yang orangtua yang menanyakan kesediaanku membuka kelas online menulis untuk anak. Terharu rasanya melihat respon mereka.

Di akhir pelatihan, aku pun mengajak mereka menonton beberapa film cerita pendek. Beberapa anak (bahkan peserta dari ruang sebelah) heran. Apa hubungannya, pelatihan menulis kok malah diajak nonton? :) Tapi semuanya malah senang dan menikmati. Mereka diajak untuk menentukan unsur-unsur pembentuk cerita pada film yang ditonton.

Semoga 'bibit-bibit' ini bisa bertunas dan tumbuh sebagai penulis muda berbakat. Amin.