Sekitar akhir tahun 90 an saya sempat tinggal di Jakarta di bilangan Kampung Melayu. Di sebelah rumah kontrakan, saya sering mendengar lagu yang dinyanyikan seorang anak. Kira-kira lirik lagunya mengisahkan sepasang merpati terbang ke gua dan bertemu dengan seekor laba-laba yang sedang membangun sarang di mulut gua.
Maka bertanyalah sang merpati, apa yang dilakukan sang laba-laba. Membuat sarang hingga menutup seluruh pintu gua. Laba-laba pun menjawab bahwa dia diperintahkan Allah untuk melakukan pekerjaan tersebut karena di dalam gua bersembunyi manusia mulia Rasulullah saw bersama sahabatnya Abubakar dari kejaran para kafir Quraisy.
Lagu ini pun kami ajarkan pada kedua anak kami saat mereka masih kecil. Selain menambah perbendaharaan lagu juga untuk menceritakan kisah perjuangan Rasulullah saat awal penyebaran agama Islam.
Saat kami berkesempatan menunaikan ibadah haji, kami pun melakukan ziarah ke beberapa tempat yang berhubungan dengan syiar Islam termasuk ke Jabal Tsur. Begitu sampai ke lokasi, bayangan kami tentang pegunungan dan gua batu tidak sepenuhnya tepat. Karena lokasinya sekarang berada di tepi jalan raya kota Mekkah dan daerah sekitarnya.
Daerah ini sering dilewati banyak kendaraan. Memang lokasi persis gua dalam lagu tersebut masih berada jauh di atas. Konon kabarnya dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapainya. Menurut cerita orang yang pernah berkunjung ke sana, gua tersebut sangat kecil. Hanya bisa memuat 2 orang saja. Itu pun untuk memasukinya harus merangkak satu per satu.
Walaupun tidak berhasil mencapai mulut gua karena terbatasnya waktu, tapi ada satu hal yang tetap mengaitkan lagu Sepasang Merpati dan Jabal Tsur yaitu keberadaan banyak merpati di sekitar lokasi kendaraan parkir. Tak heran ketika saya mengirimkan foto di sini, anak saya berkomentar ternyata merpati memang ada. Mungkin dia tidak menyangka kalau lagu tersebut memang menceritakan keberaan merpati.
Seperti kebanyakan lokasi sejarah di kota Mekkah dan Medinah, merpati memang banyak ditemukan di kedua kota suci ini. Keberadaan mereka seolah menjadi penanda kedamaian di sini. Bukankah merpati memang selalu memjadi simbol perdamaian.
Semoga keberadaan mereka dapat terus dipertahankan dan tidak tersingkir akibat pembangunan besar-besaran di kedua kota ini.
Jumat, 02 September 2016
Kamis, 09 Januari 2014
[Bukuku] Seri Dongeng Sains
Seri
Dongeng Sains
Penulis
: Firmanawaty Sutan
Tahun
terbit : 2013
Penerbit
: PT Penerbitan Pelangi Indonesia
Seri
dongeng sains terdiri dari tiga judul, masing-masing :
1.
Boneka Hidup
2.
Pesan Rahasia Raja Hemis
3.
Piknik Air
4.
Detektif Lang
Buku-buku
berformat picture book dengan kertas yang tebal serta gambar yang menarik.
Seperti layaknya dongeng, cerita-cerita pada buku ini pun sanggup menghibur
anak-anak. Namun kelebihan utamanya adalah bermuatan sains. Misalnya pada buku
Detektif Lang, diceritakan bahwa sang detektif belalang membantu Lolo Kepik
menemukan pencuri topi kesayangannya. Tanpa anak sadari, setelah membaca buku
ini, pembaca anak sebenarnya telah mempelajari suatu proses metamorfosis pada
kupu-kupu.
Memang
penulisan buku ini dilandasi dengan keinginan mengajak anak belajar sains
dengan cara menyenangkan. Buku dan dongeng merupakan cara efektif untuk
mengenalkan sains.
Salah
satu hal menggembirakan juga adalah buku ini sempat dipamerkan di ajang pameran
buku internasional Frankfurt Book Fair. Tentu menjadi kebanggan tersendiri
karena diikutkan ke ajang bergengsi tersebut.
[Kuliner Daihatsu] Terpikat Poster Kepiting
Saya
termasuk salah seorang penggemar kuliner seafood. Mulai dari ikan (segala macam ikan
laut), kerang, cumi, udang dan kepiting. Semuanya saya suka. Salah satu
faktornya mungkin karena ‘nenek moyangku’ seorang pelaut. Eit, bukan bercanda
lho, tapi karena saya memang asli Bugis Makassar. Suku yang memang sudah
terkenal dengan kegemarannya pada makanan laut.
Mungkin
bagi sebagian besar penikmat seafood, makan kepiting itu sedikit ribet. Tidak semua
orang sabar berurusan dengan cangkang-cangkang kerasnya. Tapi bagi saya pribadi
walaupun makannya sedikit ribet, tapi kenikmatan makan kepiting segar itu
berbanding lurus dengan keribetannya. Nggak apa-apalah ribet sedikit, toh
sekarang sudah ada alat khusus untuk menjepit kepiting. Tidak seperti waktu
kecil saya dulu, nenek saya almarhum selalu membantu dengan cobekan untuk
menghancurkan kulit kepiting yang segar.
Menghabiskan
masa kecil dan remaja di berbagai kota di Sulawesi membentuk pola makan saya
yang lebih memilih ikan (atau seafood lainnya) dibanding ayam, ikan, tempe tahu
maupun telur. Tapi sayangnya, bisa dibilang, sejak menetap di Bandung dan Bogor
saya jarang menyantap seafood. Penyebabnya karena di kedua kota tersebut sangat
sulit menemukan bahan seafood segar.
Karena
alasan itulah, saat mengunjungi daerah pantai, pilihan saya biasanya seafood. Kebetulan saat November kemarin saya diajak salah satu produsen minyak goreng berwisata kuliner di Makassar. Selain mencicipi hidangan khas Kota Anging Mamiri, para peserta juga diajak makan malam dengan menu seafood di salah satu rumah makan terkenal. Yay, ada kepiting juga. Rasanya luar biasa. Daging
kepitingnya masih keras menempel, tidak seperti kepiting yang sudah tak segar
yang biasa saya temukan di Jawa. Walau demikian saat digigit rasanya juicy dan terasa manis khas makanan
laut.
![]() |
| Kepiting asam manis ala Makassar. Sulawesi Selatan. |
Liburan
kemarin kebetulan kami sekeluarga berkunjung ke pesisir selatan Jawa Barat. Masih
teringat dengan masakan kepiting yang saya temukan di Makassar, saya pun
mencoba memesan kepiting saat di Pelabuhan Ratu. Saya berasumsi karena daerah ini berada di tepi pantai, pastinya kepiting yang saya pesan segar dan enak. Tapi sayang, apa daya, saya
kecewa. Kepitingnya sudah tidak segar lagi. Rasanya pun sudah tak begitu enak,
padahal bumbu asam manisnya lumayan. Ceritanya kecewa deh. Tapi tetap dimakan
kok, sayang sudah dipesan.
![]() |
| Kepiting asam manis ala Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. |
Pemandangan
kepiting lada hitam di poster Daihatsu Blog Competition membangkitkan semangat saya untuk kembali mencoba seafood bercapit ini dalam bentuk kepiting lada hitam. Terus terang saya juga baru tahu kalau makanan tersebut
ternyata merupakan kuliner khas dan andalan Balikpapan. Saya pun browsing dan
menemukan kepiting kenari andalan di kota tersebut . Saya berharap kalau menang di lomba ini, saya memiliki kesempatan mencoba makan kepiting kenari di Balikpapan.
Cikotok, Potensi Wisata Tambang
Ini
adalah bagian kedua dari cerita tentang Cikotok saat ini. Cerita bagian
pertamanya bisa dibaca di sini.
Seperti
sudah diceritakan sebelumnya, Cikotok saat ini sudah ditinggalkan oleh PT Aneka
Tambang. Tapi potensi emas di daerah ini sebenarnya belum berakhir. Buktinya
masih banyak terdengar cerita kesuksesan penambang emas liar yang menemukan
hasil galian dengan kandungan emas tinggi.
Mungkin
timbul pertanyaan, jika demikian mengapa PT Antam meninggalkan Cikotok kalau
memang ternyata masih mengandung emas? Seperti halnya industri lain, industri
pertambangan pun tentu saja menerapkan prinsip ekonomi dalam menentukan untung
rugi jalannya perusahaan. Walaupun daerah ini terbukti masih bisa menghasilkan
emas, tapi secara ekonomis tidak menguntungkan untuk dikelola. Dengan kata lain
potensi kandungan emasnya sudah tidak layak secara industri.
Cikotok pun sepi dari hiruk pikuk pekerja tambang. Beberapa mess dan perumahan
yang tadinya dipenuhi karyawan, kini terlihat kosong tak terawat. Beberapa
dialihfungsikan untuk kepentingan masyarakat sekitar termasuk bekas kantor Unit
Pengolahan Emas Cikotok PT Antam yang kini berubah menjadi bangunan SMKN 1
Cibeber.
![]() |
| Penulis menyempatkan berfoto di depan mess geologi UPEC PT Antam di Pasir Laban yang kini dibiarkan kosong. |
Sebenarnya
geliat pertambangan tidak sepenuhnya lenyap dari tempat ini. Beberapa gurandil
(sebutan untuk penambang emas liar atau PETI/ penambang emas tanpa izin) masih
terlihat mondar-mandir. Baik ketika berbelanja, mengangkut logistik ke lokasi
lubang penggalian maupun mengangkut karung-karung hasil penggalian.
Mengingat
nama besar Cikotok yang sudah tertanam di sebagian besar masyarakat Indonesia
serta geliat pertambangan yang masih berdenyut, tak ada salahnya menjadikannya
sebagai salah satu destinasi tujuan wisata pertambangan.
Beberapa
peninggalan seperti mesin-mesin dan aset bangunan bisa dijadikan sarana
pembelajaran dan pengenalan dunia tambang pada generasi muda. Wisatawan pun
dapat diajak untuk mengunjungi beberapa lumbang tambang, tentu saja dengan
memastikan keamanannya terlebih dahulu. Kegiatan penambangan yang dilakukan
rakyat juga bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi wisatawan.
![]() |
| Dulu 'lift' ini dipergunakan untuk mengangkut pekerja ke terowongan bawah tanah. |
![]() |
| Konon di sini ada 'conveyor belt' untuk mengangkut hasil penggalian dari terowongan menuju pabrik pengolahan di Pasir Gombong. |
Selain
itu, Cikotok memiliki alam cukup indah dan udara sejuk. Jalan berkelok dan naik
turun, khas daerah pesisir selatan Pulau Jawa memberikan pemandangan indah bagi
mata.
Apabila
Cikotok bisa menjadi destinasi wisata pertambangan, tentunya ini dapat
mendatangkan keuntungan bagi warga sekitar. Bukan tidak mungkin, ‘emas’ dalam
bentuk lain kembali memakmurkan masyarakat Cikotok.
Minggu, 05 Januari 2014
ITB89 Masuk Istana (1)
Bermula
saat kunjungan ke Sukabumi, saat itu ITB 89 yang terdiri dari Doddy, Lilis,
Erni dan Firma ditemani tuan rumah Neneng, tercetuslah ide berkunjung ke Istana
Bogor. Saat ide ini dilempatkan ke grup ITB 89 di facebook, beberapa
teman-teman ternyata antusias bergabung. Mungkin karena pemilihan waktunya yang
juga tepat, bersamaan dengan akhir liburan sekolah, banyak yang mengajak
keluarganya sekalian berlibur ke Bogor.
Tidak
banyak yang tahu prosedur masuk ke Istana Bogor. Setiap tahun, Istana Bogor
biasanya terbuka untuk umum pada saat perayaan hari jadi kota Bogor tanggal 3
Juni. Selain itu ada rasa sangsi bisa masuk ke tempat tersebut. Tak heran,
karena istana ini merupakan salah satu dari 6 istana yang pengelolaannya di
bawah negara dalam hal ini Sekretariat Kepresidenan.
Lilis
dan Ratih pun lalu ber’gerilya’ mencari informasi kemungkinan melakukan
kunjungan ke Istana Bogor. Akhirnya setelah melayangkan surat resmi ke pihak
istana, gayung pun bersambut. ITB 89 diterima masuk Istana Bogor tanggal 4
Januari 2014.
Pagi
hari tanggal 4, sesuai kesepakatan, para ITB 89 dan keluarga sudah berkumpul di
depan istana. Sebagian datang dengan mobil pribadi dan adapula yang
memanfaatkan transportasi kereta dari Jakarta. Teman-teman dari Bandung bahkan
mempersiapkan diri dengan menyewa bis bersama. Pilihan yang cukup bijak untuk
mengurangi kepadatan kota Bogor di saat weeked seperti ini.
Sekitar
jam 10, rombongan dipersilahkan masuk ke istana. Perkiraan awal mobil harus
parkir di luar, ternyata bisa masuk dengan syarat meninggalkan kartu identitas
di pos penjagaan. Namun tak sedikit pula yang memilih jalan kaki, sambil
menikmati suasana halaman istana yang teduh dan rusa-rusa totolnya.
Tak
lama menunggu, Pak Mukhtar dari pihak Istana Bogor serta beberapa pegawai
lainnya siap memandu rombongan. Langkah yang cukup bijaksana. Kalau nggak
begitu, bisa-bisa ada yang berlarian mengejar rusa. J
Perjalanan
dimulai dari bagian sayap kiri gedung. Oh iya, bangunan inti Istana Bogor
terdiri dari tiga bagian. Sayap kiri, ruang utama dan sayap kanan. Bentuknya
simetris antara bagian kanan dan kiri. Pemandu pun sudah mewanti-wanti
sebelumnya untuk menghindari kebingungan pengunjung.
Di
bagian sayap kiri, pengunjung ITB 89 dan keluarga diajak melihat-lihat ruangan
yang ada di bagian itu. Mulai dari kamar-kamar yang biasa dihuni tamu setingkat
menteri, kamar pancawarna (kamar yang dulunya pernah digunakan delegasi 5
negara pencetus gerakan nonblok),
perpustakaan pribadi Bung Karno, ruang makan untuk jamuan kenegaraan dan
ruang film yang dulu sering digunakan Bung Karno untuk menikmati film-film
kegemarannya. Oh iya, pengunjung tidak bisa masuk ke beberapa bagian tertentu.
Hanya cukup menengok dari bagian luar yang dibatasi.
![]() |
| Di bagian belakang adalah Kamar Pancawarna. |
Beberapa
lukisan monumental juga bisa terlihat menghiasi dinding ruang film. Mulai dari
lukisan ‘Upacara Perkawinan Rusia’ (konon di dunia, hanya ada tiga lukisan
seperti ini. Dua diantaranya ada di Indonesia. Dan tragisnya tidak ada lagi di
Rusia).
Ada
pula lukisan yang menceritakan epik Jaka Tarub saat mengintip para bidadari
mandi di sungai. Uniknya, kalau biasanya kita membaca epiknya pasti kita ingat
bahwa ada 7 bidadari dalam adegan tersebut. Namun di lukisan karya Basuki
Abdullah tersebut hanya terlihat 6 bidadari saja. Hingga pemandu pun
berseloroh, jangan-jangan seorang bidadari tersebut ternyata hadir berbaur di
antara ITB 89. Gurauan yang menimbulkan decak misteri di antara pengunjung.
ITB89 Masuk Istana (2)
Memasuki
Ruang Teratai, ITB 89 disuguhi lukisan presiden yang pernah memimpin Indonesia.
Pastinya tahun 2014 ini akan ada pengaturan baru mengingat Presiden SBY sekarang
tidak bisa lagi mencalonkan diri. J Ruangan ini
dinamakan Ruang Teratai karena hiasan teratai memenuhi bagian atas ruangan. Di
bagian lain juga terpajang dua cermin kecil bermotif bulan dan matahari yang
konon merupakan hadiah dari Raja Spanyol.
Oh
iya, Ruang Teratai ini merupakan ruang terpenting di Istana bogor. Karena di
sinilah Presiden biasanya menerima tamu-tamu penting dari negara lain. Di depan
ruangan ini adalah teras depan istana yang menghadap ke taman depan.
Beranjak
dari sini, pengunjung diajak ke Ruang Garuda yang letaknya di belakang Ruang
Teratai. Oh ya, antara kedua ruangan ini terdapat suatu tempat yang merupakan
favorit sebagian besar pengunjung yaitu Ruang Kaca 1000. Sebenarnya tidak tepat
juga kalau disebut ruangan karena ini hanya merupakan penghubung kedua ruangan
penting tadi. Yang istimewa ya itu tadi, adanya kaca atau cermin yang (konon)
kabarnya bisa memantulkan gambar hingga 1000 bayangan. Psst, rahasia ya, kata
pemandunya sih kalau dihitung sebenarnya ada bayangan kurang lebih 428.
Tidak
berlebihan jika tempat ini menjadi favorit. Setiap pengunjung yang lewat di
antara kedua cermin itu pasti menyempatkan diri melihat bayangannya yang saling
dipantulkan. Kunjungan saya sebelumnya, waktu itu dalam rangka ulang tahun
Bogor, tingkah pengunjung pun sama. Tidak peduli orang dewasa maupun anak-anak,
semuanya pasti berkaca.
Selain
itu keistimewaan lain tempat ini adalah pada posisinya. Pengunjung diarahkan
menengok ke atas dan membayangkan bahwa tempat ini tepat berada di bawah kubah
istana. Dan tempat ini pula yang menjadi dasar titik 0 km jarak Bogor –
Jakarta. Memang kalau ditarik garis lurus imajiner ke depan, titik ini akan
searah dengan pertigaan jalan Sudirman – Juanda – Jalak Harupat (Lapangan
Sempur). Dulu kala pertigaan ini adalah bagian dari jalan Jakarta-Bogor sebelum
adanya jalan tol Jagorawi. Pak Mukhtar juga menambahkan bahwa jalan ini
merupakan suatu garis lurus dengan Istana Merdeka di Jakarta. Wallahu alam.
Memasuki
Ruang Garuda, pengunjung disuguhi cerita tentang pertunjukan seni yang sering
diadakan di ruangan ini. Bahkan di bagian atasnya dulu terdapat tempat para
musisi beraksi secara live. Banyak pengunjung mungkin lalu membayangkan berada
di gedung teater. Ruangan ini memang sepertinya dirancang sedemikian rupa untuk
keperluan itu.
Menuju
teras belakang, kita bisa memandang hamparan taman belakang istana. Beberapa
pohon besar menaungi beberapa patung di sini. Bisa dibayangkan pejabat Belanda
saat itu menikmati suasana sambil ditemani isteri dan anak-anaknya.
Selepas
teras belakang, ITB 89 diarahkan ke sayap kanan istana. Di sinilah biasanya
wapres dan tamu negara setingkat kepala negara. Sebenarnya dari Ruang Teratai
bisa menembus ke sayap kanan tanpa harus melalui teras belakang. Ternyata itu
karena terdapat kamar di bagian sayap kanan yang merupakan kamar tidur Presiden
SBY jika berkunjung ke Bogor.
Puas
melihat suasana di sayap kanan istana, ITB 89 diarahkan ke bagian depan istana.
Konon di sana ada patung yang sering jadi buah bibir perbincangan, yaitu patung
Denok. Banyak pengunjung yang penasaran, seperti apa rupa si Denok ini.
Mengingat sebelumnya sudah banyak patung-patung wanita cantik yang dinikmati
selama memasuki taman istana.
Benar
saja, Denok sudah menanti di sebelah kanan depan istana. Namanya pun terpahat
jelas di bagian bawah tempatnya berjongkok. Dibanding patung lain, Denok
sedikit lebih bongsor. Selain itu sebenarnya tidak terlihat keistimewaan
lainnya. Ternyata, oh ternyata, si Denok ini istimewa karena konon
bagian-bagian tubuhnya terpahat mengikuti lekuk tubuh wanita terseksi masa itu.
Konon
model pematung Trubus saat menciptakan Denok diambil dari Ara, seorang gadis
pekerja istana yang waktu itu masih berusia 16 tahun. Nah walaupun Ara menjadi
model awalnya, tapi bagian tubuh lainnya mencontoh wanita lain yang kebetulan bagian
tubuh yang lebih baik dari Ara.
Kunjungan
ITB 89 ke Istana Bogor berakhir di teras depan istana. Di sanalah, Presiden RI
menyambut tamu-tamunya ketika turun dari kendaraan yang mengantarkan. Di sana
pula para menteri berfoto setelah berkunjung ke istana. Di sana pula para
peserta penataran Pancasila pada jaman Orba berfoto. Dan sepertinya tempat itu
memang menjadi favorit pengunjung berfoto usai berkunjung ke Istana Bogor.
ITB
89 pun mengakhiri kunjungannya di tangga itu. Disaksikan Patung Marhaen dan
beberapa pengarah gaya, ITB 89 pun berfoto ria. Mulai dari edisi serius hingga
edisi heboh. Mulai dari alumni, pasangan (suami/isteri) ITB 89 maupun junior
ITB 89 semuanya berfoto. Kapan lagi bisa berjumpa di istana? J
Label:
bogor,
itb89,
jalan,
jalan-jalan,
traveling
Rabu, 01 Januari 2014
Cikotok, Riwayatmu Kini.
Bagi
Anda yang pernah mengalami masa sekolah di Indonesia, tentu tak asing dengan
nama Cikotok. Betul, di pelajaran IPA atau IPS kita seringkali menemukan nama
daerah ini yang disebut sebagai daerah penghasil emas. Tapi bagaimana keadaan
Cikotok sekarang?
Tidak
seperti namanya yang sering terdengar, jarang orang yang mengetahui atau pernah
berkunjung ke Cikotok. Lokasinya yang cukup jauh dari kota besar seperti
Jakarta, Rangkasbitung ataupun Sukabumi, menjadikan daerah ini jarang dikunjungi.
administratif Cikotok terletak di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Propinsi
Banten. Sebelum pembentukan Propinsi Banten, daerah ini menjadi bagian dari
Propinsi Jawa Barat.
Ada
beberapa rute yang bisa dilalui untuk mencapai daerah ini. Pertama dari ibukota
Propinsi Banten, Serang – Rangkasbitung – Bayah – Cikotok. Jalur lainnya dari
Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Bayah – Cikotok atau jalur Sukabumi – Pelabuhan
Ratu – Pasir Kuray – Cikotok. Kondisi jalan relatif mulus walaupun di beberapa
bagian terdapat kerusakan seperti jalan bergelombang dan berlubang.
![]() |
| Pemandangan pantai selatan Jawa bagian barat. |
Cikotok
yang dulunya ramai dengan kehidupan pertambangan, kini tak ada bedanya dengan
kota kecil lainnya. Beberapa aset bangunan Unit Pertambangan Emas Cikotok
(UPEC) PT Aneka Tambang kini dialihfungsikan. Kantornya pun kini menjadi Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri 1 Cibeber.
![]() |
| Bekas gedung UPEC PT Aneka Tambang kini digunakan oleh SMKN 1 Cibeber. |
Selain
sekolah, ‘peninggalan’ aset lainnya dijadikan semacam pusat pembelajaran yang
diperuntukkan untuk masyarakat sekitar.
![]() |
| Cibeber Center |
Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar,
setelah PT Aneka Tambang tidak lagi beroperasi di Cikotok, aset-asetnya lalu
dihibahkan pada pemerintah daerah setempat. Sebuah pasar dan terminal Cikotok
pun adalah bagian dari hibah tersebut.
![]() |
| Terminal dan pasar (di bagian belakang) Cikotok. Keduanya 'hibah' dari PT Aneka Tambang. |
Mungkin
timbul pertanyaan jika PT Aneka Tambang tidak beroperasi lagi di Cikotok maka
itu berarti tak ada lagi aktivitas pertambangan di daerah ini? Tetap ada, tapi
hanya dilakukan oleh masyarakat. Mereka inilah yang dikenal dengan istilah
gurandil atau PETI (penambang emas tanpa izin).
Setiap
kelompok gurandil biasanya dibiayai oleh ‘cukong’ tertentu. Mereka bekerja
berdasarkan pembagian keuntungan dengan sang cukong dalam persentase tertentu.
Selain itu sang cukong juga akan memberi semacam gaji tetap yang dihitung
perhari dan membiayai seluruh operasional seperti membeli alat dan bahan yang
digunakan.
Kegiatan
PETI ini masih memberi nuansa pertambangan di Cikotok. Mereka masih sering
terlihat hilir mudik berbelanja bahan ataupun mengangkut karung-karung berisi
batuan. Bahkan di pasar dan pinggir jalan tak aneh menemukan iklan menerima
bulion (bullion = logam mulia hasil pengolahan).
![]() |
| Gurandil atau PETI masih banyak terlihat di Cikotok |
Senin, 30 Desember 2013
Sawarna, Mutiara Banten di Pantai Selatan
Siapa yang tak kenal Pelabuhan Ratu. Kota kecil di pantai selatan Jawa Barat itu terkenal sebagai lokasi wisata laut favorit. Ketenarannya menyamai Pantai Pangandaran. Walaupun kedua pantai ini sama-sama berada di Jawa Barat, tapi lokasinya sangat jauh. Pelabuhan Ratu berada di sebelah barat, berbatasan langsung dengan Propinsi Banten. Sedangkan Pangandaran, berada di sebelah timur menuju perbatasan Jawa Tengah.
Di peta, Pantai Sawarna terlihat bersisian dengan Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak dekat kota Bayah dan menjadi bagian dari Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kalau dari Pelabuhan ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Satu melalui jalur utara memutar ke Pasir Kuray - Cikotok - Bayah sedangkan alternatif kedua melalui jalan lintas Cisolok - Cilograng.
Kedua rute tersebut sama-sama bagus dan mulus, hanya memang ada beberapa bagian ruas jalan yang rusak cukup parah. Jalur pertama memang lebih jauh tapi jalannya relatif tidak terlalu terjal dan berkelok. Sebaliknya jika menggunakan rute kedua, Anda harus bersiap dengan kelokan dan terjalnya jalan dalam jarak yang relatif pendek. Hati-hati, jangan lupa mempersiapkan kendaraan dengan baik.
Memasuki desa Sawarna, kita akan mulai merasakan suasana desa pantai di beberapa bagian. Adapun di bagian lainnya terasa seperti desa di pedalaman biasa karena tak terdengar debur ombak. Banyak obyek wisata yang bisa Anda kunjungi sekaligus di desa ini. Hal tersebut tercantum jelas pada peta yang sudah disiapkan pemerintah setempat.
Dari sekian banyak obyek wisata, Tanjung Layar dan Pasir Putih sepertinya menjadi favorit pengunjung. Itu ditandai dengan parkiran mobil dan bus yang selalu penuh. Berbeda dengan tempat lainnya di kawasan ini.
Letaknya yang berdekatan memudahkan pengunjung. Untuk masuk ke sini, kita harus melalui pintu gerbang depan jembatan gantung. Tarif sekali masuk Rp. 5000/orang.
Jarak tempuh ke Tanjung Layar sekitar 1 km, atau pengunjung juga bisa menyewa ojek. Ada juga pengunjung yang mengendarai motor hingga sampai ke lokasi. Sedangkan jarak ke Pasir Putih lebih dekat, hanya berkisar 200 meter. Kondisi jalan cukup bagus dengan pengeras paving block. Pengunjung cukup dimanjakan dengan pemandangan sawah, perkebunan dan bukit di kejauhan.
Dinamakan Tanjung Layar karena di kawasan ini terdapat batu besar menyerupai dua layar kapal. Bentuknya yang unik menjadikan daerah ini tempat pengambilan gambar favorit pengunjung. Tidak disarankan bermain air atau berenang di sini karena ombak yang sangat kuat. Selain itu dasar pantai berupa batuan berpotensi melukai jika tidak berhati-hati.
Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain ombak sebaiknya dilakukan di Pasir Putih. Di sini relatif aman karena pantainya yang landai dan berpasir. Tapi prinsip hati-hati dan waspada harus tetap diingat.
Pengunjung tak perlu bingung mengenai akomodasi. Di kawasan ini bertebaran homestay dan tempat makan yang cukup memadai. Begitupula dengan fasilitas kamar mandi dan air bersih. Bahkan pengunjung yang ingin memasang tenda pun bisa. Untuk kepentingan ini, pengunjung bisa meminta izin pada penduduk yang membuka warung di sekitar situ. Biasanya mereka akan mengizinkan dengan imbal balik belanja makanan di warung atau menggunakan fasilitas kamar mandi yang disediakan pemilik warung tersebut. Tak usah khawatir masalah harga, cukup terjangkau kok.
Sedikit pembeda dengan kawasan wisata pantai lainnya adalah masih sedikitnya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Di kawasan Sawarna hanya tersedia fasilitas surfing, dan itupun tidak banyak pengunjung yang memanfaatkannya. Hanya segelintir wisatawan asing yang terlihat surfing. Di sini juga tidak terlihat aktifitas banana boat dan snorkeling. Mungkin karena ombaknya yang tidak memungkinkan.
Nah, jika Anda sedang merencanakan liburan ke pantai dan bosan dengan Carita, Anyer maupun Pelabuhan Ratu, mungkin saatnya mencoba Pantai Sawarna. Mutiara Propinsi Banten di Pantai Selatan.
Di peta, Pantai Sawarna terlihat bersisian dengan Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak dekat kota Bayah dan menjadi bagian dari Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kalau dari Pelabuhan ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Satu melalui jalur utara memutar ke Pasir Kuray - Cikotok - Bayah sedangkan alternatif kedua melalui jalan lintas Cisolok - Cilograng.
Kedua rute tersebut sama-sama bagus dan mulus, hanya memang ada beberapa bagian ruas jalan yang rusak cukup parah. Jalur pertama memang lebih jauh tapi jalannya relatif tidak terlalu terjal dan berkelok. Sebaliknya jika menggunakan rute kedua, Anda harus bersiap dengan kelokan dan terjalnya jalan dalam jarak yang relatif pendek. Hati-hati, jangan lupa mempersiapkan kendaraan dengan baik.
Memasuki desa Sawarna, kita akan mulai merasakan suasana desa pantai di beberapa bagian. Adapun di bagian lainnya terasa seperti desa di pedalaman biasa karena tak terdengar debur ombak. Banyak obyek wisata yang bisa Anda kunjungi sekaligus di desa ini. Hal tersebut tercantum jelas pada peta yang sudah disiapkan pemerintah setempat.
![]() |
| Peta Lokasi dilengkapi dengan keterangan penting termasuk tarif ojek ke daerah tertentu. |
Letaknya yang berdekatan memudahkan pengunjung. Untuk masuk ke sini, kita harus melalui pintu gerbang depan jembatan gantung. Tarif sekali masuk Rp. 5000/orang.
Jarak tempuh ke Tanjung Layar sekitar 1 km, atau pengunjung juga bisa menyewa ojek. Ada juga pengunjung yang mengendarai motor hingga sampai ke lokasi. Sedangkan jarak ke Pasir Putih lebih dekat, hanya berkisar 200 meter. Kondisi jalan cukup bagus dengan pengeras paving block. Pengunjung cukup dimanjakan dengan pemandangan sawah, perkebunan dan bukit di kejauhan.
![]() |
| Pintu masuk kawasan Tanjung Layar dan Pasir Putih. |
Dinamakan Tanjung Layar karena di kawasan ini terdapat batu besar menyerupai dua layar kapal. Bentuknya yang unik menjadikan daerah ini tempat pengambilan gambar favorit pengunjung. Tidak disarankan bermain air atau berenang di sini karena ombak yang sangat kuat. Selain itu dasar pantai berupa batuan berpotensi melukai jika tidak berhati-hati.
![]() |
| Penulis berfoto dengan latar belakang batu berbentuk layar. |
Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain ombak sebaiknya dilakukan di Pasir Putih. Di sini relatif aman karena pantainya yang landai dan berpasir. Tapi prinsip hati-hati dan waspada harus tetap diingat.
![]() |
| Pantai Pasir Putih, Sawarna Banten. |
Pengunjung tak perlu bingung mengenai akomodasi. Di kawasan ini bertebaran homestay dan tempat makan yang cukup memadai. Begitupula dengan fasilitas kamar mandi dan air bersih. Bahkan pengunjung yang ingin memasang tenda pun bisa. Untuk kepentingan ini, pengunjung bisa meminta izin pada penduduk yang membuka warung di sekitar situ. Biasanya mereka akan mengizinkan dengan imbal balik belanja makanan di warung atau menggunakan fasilitas kamar mandi yang disediakan pemilik warung tersebut. Tak usah khawatir masalah harga, cukup terjangkau kok.
Sedikit pembeda dengan kawasan wisata pantai lainnya adalah masih sedikitnya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Di kawasan Sawarna hanya tersedia fasilitas surfing, dan itupun tidak banyak pengunjung yang memanfaatkannya. Hanya segelintir wisatawan asing yang terlihat surfing. Di sini juga tidak terlihat aktifitas banana boat dan snorkeling. Mungkin karena ombaknya yang tidak memungkinkan.
Nah, jika Anda sedang merencanakan liburan ke pantai dan bosan dengan Carita, Anyer maupun Pelabuhan Ratu, mungkin saatnya mencoba Pantai Sawarna. Mutiara Propinsi Banten di Pantai Selatan.
Jumat, 27 Desember 2013
Kekuatan Fiksi
Saya ini termasuk penulis yang jarang sekali atau bisa dibilang tidak pernah menulis fiksi remaja maupun dewasa. Saya lebih menikmati nonfiksi karena merasa daya imajinasi saya sepertinya agak terbatas :). Belum lagi saya merasa pilihan kata-kata saya sepertinya terbatas. Itulah alasan utama saya tiak menulis fiksi dewasa maupun remaja.
Untuk fiksi anak, saya sudah menghasilkan beberapa buku untuk pembaca anak. Baik itu yang berbentuk pictorial book maupun novel anak. Tapi bukankah ini juga membutuhkan imajinasi? Betul, hanya saja saya mungkin agak terbantu karena suka membaca buku anak (bareng anak-anak saya) dan juga banyak bergaul dengan anak-anak murid saya.
Namun kali ini saya terpancing untuk ikut urun cerita di ajang menulis fiksi yang diadakan komunitas fiksiana / kompasiana. Mungkin karena temanya cukup menyentuh, yaitu tentang ibu, membuat saya tertarik ikutan. Saya pun mempelajari syarat-syarat yang disebutkan antara lain menggunakan sudut pandang orang pertama, format surat seperti kita menulis surat untuk ibu sendiri, harus menguras air mata dan point yang terakhir adalah boleh pengalaman sendiri maupun fiksi.
Membaca ketentuan tersebut, saya pun mulai menggali semua ingatan saya tentang mama saya. Tentunya yang sedih dan diharapkan mampu menguras air mata. Kok ya, makin dipikir saya makin tidak menemukan. Apa pasal? Mungkin karena, alhamdulillah, saya rasanya tidak pernah mengalami masa yang harus bersimbah air mata.
Ah, nggak mungkin. Pasti ada saja yang berkata demikian. Memang rasanya nggak mungkin ada manusia yang tidak mengalami kesedihan. Tapi suer, saya belum nemu sedikitpun kisah sedih dalam relasi saya dengan mama. Semuanya menggembirakan, walaupun terus terang saya mengakui hidup kami juga tidak berlebihan kok. Tapi semuanya lancar....saja. Alhamdulillah.
Akhirnya saya pun terpikirkan seorang anak, sebutlah namanya Ani. Dia sekarang masih duduk di bangku SMP. Nah Ani inilah yang merasuki sang aku dalam cerita yang saya buat. Saya mengenal keluarga Ani jauh sebelum dia lahir. Bahkan sampai aib dimana tak ada seorangpun lelaki yang mengakuinya sebagai anak karena ibunya memang hamil diluar nikah.
Nah dari sinilah saya berusaha menyelami perasaan Ani. Oh iya ibu Ani memang cacat, tapi bukan bisu tuli seperti yang saya ceritakan di situ. Ibu Ani kurang cerdas. Saya nggak tahu persisnya penyakit apa. Kalau kita berinteraksi biasa dengannya, tidak terlihat tanda-tanda ada yang kurang padanya. Tapi kalau kita lama bergaul, barulah kekurangan itu terasa.
Sebagai Ani, saya pun berusaha merasakan bagaimana jika tak memiliki ayah (maksudnya tak ada yang mengaku gitu) dan memiliki ibu yang agak 'kurang'. Saya pun mengulik dari kisah Ani, bagaimana dia makin malu ketika harus diantarkan ke sekolah oleh ibunya. Bagaimana dia lebih memilih sang nenek mengambil rapor dibanding dengan ibunya. Dari sinilah cerita itu kemudian mengalir.
Setelah saya memposting cerita tersebut, dukungan pun mngalir. bukan hanya karena kisahnya yang menyentuh. Tapi ternyata banyak pula yang menaruh simpati pada nasib aku di cerita tersebut. Bahkan beberapa teman pun 'kecele' menyangka kalau itu kisah saya pribadi. Ada yang sampai mengungkapkan tidak menyangka kalau saya yang sekarang ternyata memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan.
Membaca simpati itu tentu saja sikap saya jadi mendua. Di satu sisi saya merasa sedikit 'kesal' karena dianggap memiliki masa lalu yang tidak biasa. Tapi di sisi lain, sebagai penulis, tentu saja saya merasa senang karena berhasil menuliskan dan menyelami perasaan Ani dalam cerita yang saya buat. Mungkin ini salah satu kekuatan fiksi. Membuat orang simpati pada sang tokoh.
Pengumuman hasilnya sih belum ada. Entah saya menang atau tidak. Tapi terlepas dari itu semua saya cukup senang bisa menuliskan sesuatu yang tidak biasanya saya tulis. Semoga ini menjadi pengalaman pertama menuliskan kisah-kisah demikian.
Tertarik membaca kisah tersebut. Disini ya.... :)
Untuk fiksi anak, saya sudah menghasilkan beberapa buku untuk pembaca anak. Baik itu yang berbentuk pictorial book maupun novel anak. Tapi bukankah ini juga membutuhkan imajinasi? Betul, hanya saja saya mungkin agak terbantu karena suka membaca buku anak (bareng anak-anak saya) dan juga banyak bergaul dengan anak-anak murid saya.
Namun kali ini saya terpancing untuk ikut urun cerita di ajang menulis fiksi yang diadakan komunitas fiksiana / kompasiana. Mungkin karena temanya cukup menyentuh, yaitu tentang ibu, membuat saya tertarik ikutan. Saya pun mempelajari syarat-syarat yang disebutkan antara lain menggunakan sudut pandang orang pertama, format surat seperti kita menulis surat untuk ibu sendiri, harus menguras air mata dan point yang terakhir adalah boleh pengalaman sendiri maupun fiksi.
Membaca ketentuan tersebut, saya pun mulai menggali semua ingatan saya tentang mama saya. Tentunya yang sedih dan diharapkan mampu menguras air mata. Kok ya, makin dipikir saya makin tidak menemukan. Apa pasal? Mungkin karena, alhamdulillah, saya rasanya tidak pernah mengalami masa yang harus bersimbah air mata.
Ah, nggak mungkin. Pasti ada saja yang berkata demikian. Memang rasanya nggak mungkin ada manusia yang tidak mengalami kesedihan. Tapi suer, saya belum nemu sedikitpun kisah sedih dalam relasi saya dengan mama. Semuanya menggembirakan, walaupun terus terang saya mengakui hidup kami juga tidak berlebihan kok. Tapi semuanya lancar....saja. Alhamdulillah.
Akhirnya saya pun terpikirkan seorang anak, sebutlah namanya Ani. Dia sekarang masih duduk di bangku SMP. Nah Ani inilah yang merasuki sang aku dalam cerita yang saya buat. Saya mengenal keluarga Ani jauh sebelum dia lahir. Bahkan sampai aib dimana tak ada seorangpun lelaki yang mengakuinya sebagai anak karena ibunya memang hamil diluar nikah.
Nah dari sinilah saya berusaha menyelami perasaan Ani. Oh iya ibu Ani memang cacat, tapi bukan bisu tuli seperti yang saya ceritakan di situ. Ibu Ani kurang cerdas. Saya nggak tahu persisnya penyakit apa. Kalau kita berinteraksi biasa dengannya, tidak terlihat tanda-tanda ada yang kurang padanya. Tapi kalau kita lama bergaul, barulah kekurangan itu terasa.
Sebagai Ani, saya pun berusaha merasakan bagaimana jika tak memiliki ayah (maksudnya tak ada yang mengaku gitu) dan memiliki ibu yang agak 'kurang'. Saya pun mengulik dari kisah Ani, bagaimana dia makin malu ketika harus diantarkan ke sekolah oleh ibunya. Bagaimana dia lebih memilih sang nenek mengambil rapor dibanding dengan ibunya. Dari sinilah cerita itu kemudian mengalir.
Setelah saya memposting cerita tersebut, dukungan pun mngalir. bukan hanya karena kisahnya yang menyentuh. Tapi ternyata banyak pula yang menaruh simpati pada nasib aku di cerita tersebut. Bahkan beberapa teman pun 'kecele' menyangka kalau itu kisah saya pribadi. Ada yang sampai mengungkapkan tidak menyangka kalau saya yang sekarang ternyata memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan.
Membaca simpati itu tentu saja sikap saya jadi mendua. Di satu sisi saya merasa sedikit 'kesal' karena dianggap memiliki masa lalu yang tidak biasa. Tapi di sisi lain, sebagai penulis, tentu saja saya merasa senang karena berhasil menuliskan dan menyelami perasaan Ani dalam cerita yang saya buat. Mungkin ini salah satu kekuatan fiksi. Membuat orang simpati pada sang tokoh.
Pengumuman hasilnya sih belum ada. Entah saya menang atau tidak. Tapi terlepas dari itu semua saya cukup senang bisa menuliskan sesuatu yang tidak biasanya saya tulis. Semoga ini menjadi pengalaman pertama menuliskan kisah-kisah demikian.
Tertarik membaca kisah tersebut. Disini ya.... :)
Kamis, 26 Desember 2013
Menguak Sejarah di Situs Megalithikum Gunung Padang, Cianjur (1)
Membuat judulya kok terasa serius banget ya? Hehe, padahal sih menguak sejarah di sini bukan dalam arti berat lho. Hanya mengajak anak-anak berkunjung ke tempat yang (mungkin) mengandung arti sejarah.
Pilihan jatuh ke Gunung Padang karena kontroversi yang beredar di masyarakat. Penasaran dengan (katanya) kehidupan purba yang pernah hadir di tatar Sunda. Bahkan tidak sedikit yang menduga (dan berharap) bahwa situs ini nantinya bisa menyaingi kebesaran piramid. Dan kalau hal itu terjadi, tentunya kita pun bangga bahwa nenek moyang kita pun pernah memiliki peradaban yang tak kalah dengan bangsa lainnya.
Pencapaian Lokasi
Berkunjung ke situs Gunung Padang lumayan mudah. Letaknya berada di jalan raya Cianjur-Sukabumi. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui dari Jakarta. Kita bisa melalui Sukabumi lalu berbelok ke arah Cianjur. Atau sebaliknya melalui Puncak, Cianjur dan akhirnya berbelok ke arah Sukabumi.
Kondisi jalan cukup bagus dengan papan penunjuk arah yang cukup jelas. Dijamin wisatawan kecil kemungkinannya tersesat menuju lokasi. Tapi sayang selepas jalan utama, jalan kampung sepanjang kurang lebih 20 km menuju lokasi banyak rusak dan tidak nyaman. Kecuali menjelang 6 kilometer terakhir yang lumayan bagus. Berita baiknya adalah adanya transportasi umum angkutan pedesaan selepas jalan utama. Jadi pengunjung yang tidak membawa kendaraan sendiri cukup naik angkutan pedesaan.
Tapi nggak usah kecewa dengan kondisi jalan yang buruk. Berita baiknya di beberapa bagian, kita bisa menikmati pemandangan yang memanjakan hati.
Bersih dan Terawat
Memasuki kawasan Gunung Padang, saya mendapatkan kesan bersih dan terawat. Entahlah, mungkin juga karena sebagai kawasan pariwisata masih terbilang baru. Jadi masih serba rapi dan teratur. Tempat parkir yang tersedia cukup menampung puluhan mobil. Kamar mandi, toilet dan mushola tersedia. Warung-warung pun tertata rapi. Hanya sayangnya kesadaran pengunjung masih kurang. Masih sering dijumpai sampah berserakan dimana-mana.
Dari tempat parkir, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga mencapai pintu gerbang situs megalithikum ini. Harga karcis masuk ke dalam 2000 rupiah. Pengunjung bisa meminta jasa pemandu jika menginginkan.
Perjalanan ke atas menuju situs cukup terjal. Tapi syukurlah sudah ada tangga batu yang memadai untuk menuju puncak.
Situs Megalithikum
Sesampai di atas, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan morfologi daerah sekitar yang indah luar biasa. Sayangnya waktu kami berkunjung, cuaca sedang tidak bersahabat. Kabut menutupi gunung-gunung di sekitar Gunung Padang. Konon kalau kita memandang puncaknya, maka situs ini menghadap ke arah Gunung Gde.
Selain pemandangan indah, di sini pun akan kita dapat pemandangan yang tidak lazim yaitu banyaknya batuan-batuan berbentuk balok yang tersebar di ketinggian gunung. Karena itu hal ini menimbulkan pro dan kontra tentang tempat ini. Ada yang beranggapan tempat ini merupakan tempat pemujaan yang usianya jauh lebih tua dari Candi Borobudur.
Selain batuan yang mungkin menjadi bagian dari suatu bangunan masa lampau, di sini juga bisa ditemukan struktur tangga seperti tempat pemujaan. Adapulan menhir dan dolmen yang dipercaya merupakan sarana untuk meletakkan persembahan pada jaman dahulu. Sayangnya tidak ditemukan adanya prasasti yang bisa digunakan untuk menguak misteri yang ada di Gunung Padang.
Pilihan jatuh ke Gunung Padang karena kontroversi yang beredar di masyarakat. Penasaran dengan (katanya) kehidupan purba yang pernah hadir di tatar Sunda. Bahkan tidak sedikit yang menduga (dan berharap) bahwa situs ini nantinya bisa menyaingi kebesaran piramid. Dan kalau hal itu terjadi, tentunya kita pun bangga bahwa nenek moyang kita pun pernah memiliki peradaban yang tak kalah dengan bangsa lainnya.
Pencapaian Lokasi
Berkunjung ke situs Gunung Padang lumayan mudah. Letaknya berada di jalan raya Cianjur-Sukabumi. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui dari Jakarta. Kita bisa melalui Sukabumi lalu berbelok ke arah Cianjur. Atau sebaliknya melalui Puncak, Cianjur dan akhirnya berbelok ke arah Sukabumi.
Kondisi jalan cukup bagus dengan papan penunjuk arah yang cukup jelas. Dijamin wisatawan kecil kemungkinannya tersesat menuju lokasi. Tapi sayang selepas jalan utama, jalan kampung sepanjang kurang lebih 20 km menuju lokasi banyak rusak dan tidak nyaman. Kecuali menjelang 6 kilometer terakhir yang lumayan bagus. Berita baiknya adalah adanya transportasi umum angkutan pedesaan selepas jalan utama. Jadi pengunjung yang tidak membawa kendaraan sendiri cukup naik angkutan pedesaan.
Tapi nggak usah kecewa dengan kondisi jalan yang buruk. Berita baiknya di beberapa bagian, kita bisa menikmati pemandangan yang memanjakan hati.
Bersih dan Terawat
Memasuki kawasan Gunung Padang, saya mendapatkan kesan bersih dan terawat. Entahlah, mungkin juga karena sebagai kawasan pariwisata masih terbilang baru. Jadi masih serba rapi dan teratur. Tempat parkir yang tersedia cukup menampung puluhan mobil. Kamar mandi, toilet dan mushola tersedia. Warung-warung pun tertata rapi. Hanya sayangnya kesadaran pengunjung masih kurang. Masih sering dijumpai sampah berserakan dimana-mana.
Dari tempat parkir, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga mencapai pintu gerbang situs megalithikum ini. Harga karcis masuk ke dalam 2000 rupiah. Pengunjung bisa meminta jasa pemandu jika menginginkan.
Perjalanan ke atas menuju situs cukup terjal. Tapi syukurlah sudah ada tangga batu yang memadai untuk menuju puncak.
Situs Megalithikum
Sesampai di atas, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan morfologi daerah sekitar yang indah luar biasa. Sayangnya waktu kami berkunjung, cuaca sedang tidak bersahabat. Kabut menutupi gunung-gunung di sekitar Gunung Padang. Konon kalau kita memandang puncaknya, maka situs ini menghadap ke arah Gunung Gde.
Selain pemandangan indah, di sini pun akan kita dapat pemandangan yang tidak lazim yaitu banyaknya batuan-batuan berbentuk balok yang tersebar di ketinggian gunung. Karena itu hal ini menimbulkan pro dan kontra tentang tempat ini. Ada yang beranggapan tempat ini merupakan tempat pemujaan yang usianya jauh lebih tua dari Candi Borobudur.
Selain batuan yang mungkin menjadi bagian dari suatu bangunan masa lampau, di sini juga bisa ditemukan struktur tangga seperti tempat pemujaan. Adapulan menhir dan dolmen yang dipercaya merupakan sarana untuk meletakkan persembahan pada jaman dahulu. Sayangnya tidak ditemukan adanya prasasti yang bisa digunakan untuk menguak misteri yang ada di Gunung Padang.
Minggu, 22 Desember 2013
Menikmati Car Free Day di Bogor
Car Free Day atau CFD sepertinya sudah menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Lazimnya setiap minggu pagi, suatu ruas jalan utama akan ditutup untuk memberi kesempatan pada masyarakat untuk merasakan suasana santai. Tanpa asap dan suara kendaraan bermotor. Di Jakarta kawasan CFD ditetapkan di jalan Sudirman, sedangkan di Bandung dipilih daerah Dago atau jalan Juanda.
Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, kawasan CFD ditetapkan di sekitaran lapangan Sempur. Jalan ini termasuk jalan utama yang menghubungkan tiga jalan besar yaitu jalan Pajajaran, jalan Juanda dan jalan Sudirman. Sebenarnya nama jalannya sendiri adalah jalan Jalak Harupat, tapi warga lebih mengenalnya dengan kawasan Sempur karena keberadaan lapangan Sempur di tepi kali Ciliwung.
Di hari biasa, jalan ini selalu ramai. Bahkan ada kalanya macet. Saat pelaksanaan CFD, jalan ini akan ditutup dari jam 6 pagi hingga jam 10 pagi. Tidak terlalu lama seperti kawasan CFD di daerah lainnya.
Walaupun jarak kawasan CFD di Bogor bisa dibilang pendek, namun suasananya sungguh mengasyikkan dibanding kawasan CFD di kota lain. Hal tersebut dikarenakan kehadiran pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan jalan. Tak heran karena berseberangan dengan lapangan Sempur adalah kawasan Kebun Raya Bogor.
Lihatlah keasyikan para pengunjung menikmati suasana CFD. Ada yang memilih berolahraga di sekitaran lapangan Sempur namun tak sedikit juga yang hanya sekadar berjalan-jalan. Tentu saja peluang ini dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk menggelar dagangan mereka. Bahkan bisa dibilang jumlah warga yang sedang berolahraga kalah banyak dibanding jumlah warga yang sedang berbelanja atau minimal cuci mata melihat barang-barang yang dijajakan.
Apa saja barang yang dijual di sini? Apa saja ada, mulai dari baju, celana, sepatu, peralatan rumah tangga, mainan anak, pokoknya segala macam ada. Para pedagang juga sepertinya berasal dari berbagai kalangan. Ada yang memang berprofesi sebagai pedagang, di hari lain mereka memang berjualan di tempat lain. Namun banyak juga pedagang dadakan. Bahkan tak sedikit kalangan muda, mungkin mahasiswa atau pelajar sekolah menengah, yang mencoba berdagang di kawasan ini.
Tidak hanya pedagang, beberapa komunitas juga kerap menggelar acara di sekitaran kawasan ini. Mulai dari komunitas bersepeda, fotografi, penggiat kebersihan hingga kalangan aktivis dakwah. Semuanya berlomba menarik perhatian para pengunjung.
Lapar atau haus tak usah khawatir. Beberapa pedagang makanan dan minuman juga kerap memenuhi kawasan ini. Hanya satu yang disayangkan, masalah sampah dan kebersihan. Sepertinya orang Indonesia memang belum banyak yang menyadari pentingnya masalah ini. Sungguh sangat disayangkan.
Oh iya jangan lupa sebelum meninggalkan kawasan ini untuk berfoto sejenak di depan istana atau dekat rusa istana. Ya, hitung-hitung sebagai bukti otentik kalau Anda pernah hadir di kota ini :)
Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, kawasan CFD ditetapkan di sekitaran lapangan Sempur. Jalan ini termasuk jalan utama yang menghubungkan tiga jalan besar yaitu jalan Pajajaran, jalan Juanda dan jalan Sudirman. Sebenarnya nama jalannya sendiri adalah jalan Jalak Harupat, tapi warga lebih mengenalnya dengan kawasan Sempur karena keberadaan lapangan Sempur di tepi kali Ciliwung.
Di hari biasa, jalan ini selalu ramai. Bahkan ada kalanya macet. Saat pelaksanaan CFD, jalan ini akan ditutup dari jam 6 pagi hingga jam 10 pagi. Tidak terlalu lama seperti kawasan CFD di daerah lainnya.
Lihatlah keasyikan para pengunjung menikmati suasana CFD. Ada yang memilih berolahraga di sekitaran lapangan Sempur namun tak sedikit juga yang hanya sekadar berjalan-jalan. Tentu saja peluang ini dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk menggelar dagangan mereka. Bahkan bisa dibilang jumlah warga yang sedang berolahraga kalah banyak dibanding jumlah warga yang sedang berbelanja atau minimal cuci mata melihat barang-barang yang dijajakan.
Apa saja barang yang dijual di sini? Apa saja ada, mulai dari baju, celana, sepatu, peralatan rumah tangga, mainan anak, pokoknya segala macam ada. Para pedagang juga sepertinya berasal dari berbagai kalangan. Ada yang memang berprofesi sebagai pedagang, di hari lain mereka memang berjualan di tempat lain. Namun banyak juga pedagang dadakan. Bahkan tak sedikit kalangan muda, mungkin mahasiswa atau pelajar sekolah menengah, yang mencoba berdagang di kawasan ini.
Tidak hanya pedagang, beberapa komunitas juga kerap menggelar acara di sekitaran kawasan ini. Mulai dari komunitas bersepeda, fotografi, penggiat kebersihan hingga kalangan aktivis dakwah. Semuanya berlomba menarik perhatian para pengunjung.
Lapar atau haus tak usah khawatir. Beberapa pedagang makanan dan minuman juga kerap memenuhi kawasan ini. Hanya satu yang disayangkan, masalah sampah dan kebersihan. Sepertinya orang Indonesia memang belum banyak yang menyadari pentingnya masalah ini. Sungguh sangat disayangkan.
Oh iya jangan lupa sebelum meninggalkan kawasan ini untuk berfoto sejenak di depan istana atau dekat rusa istana. Ya, hitung-hitung sebagai bukti otentik kalau Anda pernah hadir di kota ini :)
Sajian Kuliner Khas Makassar (1)
Masing-masing daerah selalu memiliki sajian kuliner khas, tak terkecuali di Makassar. Pisang ijo, coto dan konro adalah sebagian dari kekayaan kuliner makassar yang terkenal. Bila dibilang, kuliner ini bahkan sudah menyebar ke beberapa kota besar. Pisang ijo, misalnya, dengan mudah ditemui di beberapa pusat jajanan kota besar.
Walau sudah menyebar ke berbagai daerah, tentu saja lebih afdal rasanya jika mencicipi kuliner khas di daerah asalnya sendiri. Terasa lebih memuaskan. Mungkin juga karena pengaruh suasana.
Kuliner apa saja yang bisa ditemui di ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ini? Berikut beberapa di antaranya.
1. Coto Makassar.
Coto Makassar atau Coto Mangkasara (pelafalan Makassar dalam dialek setempat) adalah semacam masakan soto dengan isi daging (atau jeroan). Selain bumbu dasar seperti lazimnya soto, pembeda coto adalah pada penggunaan sereh, kacang tanah dan tauco. Penyajiannya biasa ditempatkan dalam sebuah mangkok kecil beralas piring. Makannya bisa dengan nasi maupun dengan ketupat.
3. Mie Titi
Makanan ini sebenarnya termasuk jenis baru makanan di Makassar. Bagi penggemar chinese food, kuliner satu ini pasti terasa akrab. Betul, kenampakan maupun rasanya mendekati ifumi. Mie yang digunakan memang biasanya digoreng kering terlebih dahulu. Diatasnya lalu disiramkan kuah kental panas berisi sayuran dan tambahan lainnya seperti bakso dan daging ayam.
4. Nyuknyang
Mungkin jenis makanan satu ini terdengar aneh. Tapi percayalah, makanan ini sebenarnya sangat mudah kita temui di mana-mana. Bakso, ya itulah nama lain nyuknyang. Terus terang, saya sendiri tidak tahu dari mana penamaan nyuknyang tersebut. Penyajiannya pun mirip dengan penyajian bakso di daerah lain. Perbedaannya mungkin pada cara menikmatinya. Di Makassar, nyuknyang bisa dinikmati dengan ditemani burasa.
Burasa atau buras adalah makanan nasi bersantan dibungkus daun pisang. Rasanya seperti lontong tanpa isi.
5. Nasi Campur
Di daerah lain, jenis makanan ini mungkin bisa disamakan dengan nasi rames. Dalam satu piring, nasi disajikan bersama lauk-pauknya seperti telur, rawon daging beserta sedikit kucuran kuahnya, kering tempe atau kentang, abon dan sebagai pelengkapnya adalah acar ketimun.
Sekarang, pilih mana? Tentu saja semuanya enak. Jadi kalau sempat ke Makassar, jangan lupakan untuk mencoba kelima jenis kuliner khas tersebut. Tentu saja masih banyak kuliner khas lainnya. Yang pasti semuanya enak dan lezat :)
Walau sudah menyebar ke berbagai daerah, tentu saja lebih afdal rasanya jika mencicipi kuliner khas di daerah asalnya sendiri. Terasa lebih memuaskan. Mungkin juga karena pengaruh suasana.
Kuliner apa saja yang bisa ditemui di ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ini? Berikut beberapa di antaranya.
1. Coto Makassar.
Coto Makassar atau Coto Mangkasara (pelafalan Makassar dalam dialek setempat) adalah semacam masakan soto dengan isi daging (atau jeroan). Selain bumbu dasar seperti lazimnya soto, pembeda coto adalah pada penggunaan sereh, kacang tanah dan tauco. Penyajiannya biasa ditempatkan dalam sebuah mangkok kecil beralas piring. Makannya bisa dengan nasi maupun dengan ketupat.
2. Konro
Selain coto, masakan daging berkuah lainnya adalah konro. Bedanya kalau coto menggunakan daging maka konro menggunakan daging bagian iga. Penyajiannya pun menyertakan iga. Kalau dulu konro disajikan berkuah, kini varian barunya dinamakan konro bakar. Jadi iga sapi yang sudah empuk dibakar (tepatnya dipanggang) dan disajikan bersama bumbu kacang, jadi rasanya mirip sate.
3. Mie Titi
Makanan ini sebenarnya termasuk jenis baru makanan di Makassar. Bagi penggemar chinese food, kuliner satu ini pasti terasa akrab. Betul, kenampakan maupun rasanya mendekati ifumi. Mie yang digunakan memang biasanya digoreng kering terlebih dahulu. Diatasnya lalu disiramkan kuah kental panas berisi sayuran dan tambahan lainnya seperti bakso dan daging ayam.
4. Nyuknyang
Mungkin jenis makanan satu ini terdengar aneh. Tapi percayalah, makanan ini sebenarnya sangat mudah kita temui di mana-mana. Bakso, ya itulah nama lain nyuknyang. Terus terang, saya sendiri tidak tahu dari mana penamaan nyuknyang tersebut. Penyajiannya pun mirip dengan penyajian bakso di daerah lain. Perbedaannya mungkin pada cara menikmatinya. Di Makassar, nyuknyang bisa dinikmati dengan ditemani burasa.
Burasa atau buras adalah makanan nasi bersantan dibungkus daun pisang. Rasanya seperti lontong tanpa isi.
5. Nasi Campur
Di daerah lain, jenis makanan ini mungkin bisa disamakan dengan nasi rames. Dalam satu piring, nasi disajikan bersama lauk-pauknya seperti telur, rawon daging beserta sedikit kucuran kuahnya, kering tempe atau kentang, abon dan sebagai pelengkapnya adalah acar ketimun.
Sekarang, pilih mana? Tentu saja semuanya enak. Jadi kalau sempat ke Makassar, jangan lupakan untuk mencoba kelima jenis kuliner khas tersebut. Tentu saja masih banyak kuliner khas lainnya. Yang pasti semuanya enak dan lezat :)
Kamis, 19 Desember 2013
Ngeblog Berhadiah Jalan-Jalan
Siapa sangka tulisan saya ini ternyata dinyatakan sebagai pemenang lomba blog resep sehat yang diadakan salah satu produsen minyak goreng, SunCo. Sebagai hadiahnya, saya bersama lima pemenang lainnya diajak jalan-jalan ke Makassar. Yey...asyik!
Walaupun bisa dikatakan asli dari Makassar, jalan-jalan kali ini tentu sangat spesial bagi saya. Selain bisa menyempatkan diri menengok orangtua, saya pun berkesempatan mencicipi berbagai hidangan khas tanpa bayar. Alias gratis..tis...tis.... Siapa yang bisa menolak godaan seperti ini :)
Singkat cerita saat tiba di Bandara Hasanuddin, kami pun dijemput panitia setempat. Tak menyia-nyiakan waktu, kami pun langsung diajak makan. Baru nyampe, udah langsung makan lho. Makannya konro lagi. Hmmm, kalau kata orang Makassar, nyamanna.....
Selesai menikmati kelezatan konro bakar dan sup konro, kami pun kembali ke bus. Bersiap menuju hotel. eh ada yang unik di depan tempat makan konro Karebosi ini. Apalagi kalau bukan aksi daeng yang menyiapkan konro. Lihatlah dengan kancing baju terbuka dia asyik membolak-balik daging iga di pembakaran. Lunrana deh itu daeng....
Hari kedua bisa dikatakan hari inti kegiatan ini. Bertempat di Kampung Popsa digelar Sunco Goes to Makassar. Acara ini menghadirkan chef Lucky (juara Master Chef Indonesia 1) dan Marischka Prudence (travel writer). Acara ini dihadiri berbagai komunitas kota Anging Mammiri. Ada komunitas blogger, tak ketinggalan pula komunitas ibu-ibu pencinta kuliner.
Suasananya tentu saja seru. Selain diisi dengan demo masak juga acara bertajuk travel talk. Adapula pengenalan produk Sunco. Tak ketinggalan games seru. Dasar judulnya culinary trip, gamesnya pun tak jauh-jauh dari kuliner. Yup...lomba makan. Beberapa mangkok pisang ijo dan jalangkote disajikan untuk dihabiskan para peserta lomba. Hasilnya lumayan, dapat juara 3. Voucher 200 ribu pun berhasil dikantongi. Eit..nggak jadi 200 ribu ding. Soalnya mesti berbagi dengan peserta satunya lagi. Jadi cuma dapat 100 ribu :)
Acara pengenalan produk juga lumayan seru. Dua orang sukarelawan diminta untuk mencicipi dua jenis minyak goreng yang disajikan. Konon minyak goreng yang baik itu seharusnya bisa diminum, walaupun bukan itu fungsi utamanya. Lihat itu ekspresi mereka girang setelah mencicipi SunCo padahal sebelumnya sempat berkerut kecut saat mencicipi minyak goreng yang lainnya.
Oh iya, para pemenang lomba blog juga menyempatkan diri mejeng bareng. Seharusnya enam orang, kami pun akhirnya hanya foto berlima. Seorang peserta berhalangan hadir. Kami pun berhaha hihi seperti jumpa teman lama. Padahal kelimanya berasal dari 5 kota berbeda yaitu Bogor, Tasikmalaya, Bandung, Jogja dan Makassar.
Di Kampung Popsa ini sebenarnya kami sudah makan kenyang lho. Kan dapat voucher makan seperti tamu undangan lainnya. Sudah itu kenyang dengan jalangkote dan pisang ijo lomba tadi. Tapi lepas dari sini, peserta digiring....makan lagi. Kali ini menuju jalan Serigala. Disana ada makanan terkenal berlabel Pallubasa Serigala. Penampakannya sih mirip sup atau soto. Tapi tentu saja bukan menggunakan daging serigala :P
Siapa yang tak kenal ikon Makassar, Pantai Losari. Tidak afdal rasanya mengunjungi Makassar kalau tidak menyempatkan diri ke sini. Waktunya pun pas, saat matahari akan tenggelam. Selain bisa menikmati pemandangan indah, kami pun bisa merasakan interaksi dengan masyarakat yang sedang menantikan sunset juga.
Sajian makan malam terakhir di kota Makassar didominasi aneka seafood. Wow...sebagai pecinta seafood, saya tentu saja sangat senang. Bayangkan saja mulai dari kerang, cumi, kepiting, ikan kerapu, hingga ikan kudu-kudu memenuhi atas meja makan kami. Cah kangkung spesial menemani nasi pulen di piring masing-masing peserta. Apalagi sambalnya, komplit...plit.... Beda dengan penyajian biasanya, disini sambal disediakan dalam berbagai variasi. Sebuah piring kecil memudahkan pengunjung restoran untuk meracik sambalnya sendiri.
Tiada perjalanan tanpa akhir. Demikian pula dengan culinary trip ini. Hari ketiga kami di Makassar, sebelum pulang ke kota masing-masing, kami seolah diantar pulang oleh lambaian ikan dalam kuah pallumara. Rasanya yang ringan serta warnanya kuning menarik seolah mengingatkan setiap peserta untuk selalu kembali ke Makassar.
Selamat jalan Makassar. Terimakasih SunCo.
![]() |
| Para pemenang lomba blog sehat dan panitia berfoto bersama di Bandara Soeta, Jakarta. |
Walaupun bisa dikatakan asli dari Makassar, jalan-jalan kali ini tentu sangat spesial bagi saya. Selain bisa menyempatkan diri menengok orangtua, saya pun berkesempatan mencicipi berbagai hidangan khas tanpa bayar. Alias gratis..tis...tis.... Siapa yang bisa menolak godaan seperti ini :)
Singkat cerita saat tiba di Bandara Hasanuddin, kami pun dijemput panitia setempat. Tak menyia-nyiakan waktu, kami pun langsung diajak makan. Baru nyampe, udah langsung makan lho. Makannya konro lagi. Hmmm, kalau kata orang Makassar, nyamanna.....
Selesai menikmati kelezatan konro bakar dan sup konro, kami pun kembali ke bus. Bersiap menuju hotel. eh ada yang unik di depan tempat makan konro Karebosi ini. Apalagi kalau bukan aksi daeng yang menyiapkan konro. Lihatlah dengan kancing baju terbuka dia asyik membolak-balik daging iga di pembakaran. Lunrana deh itu daeng....
Hari kedua bisa dikatakan hari inti kegiatan ini. Bertempat di Kampung Popsa digelar Sunco Goes to Makassar. Acara ini menghadirkan chef Lucky (juara Master Chef Indonesia 1) dan Marischka Prudence (travel writer). Acara ini dihadiri berbagai komunitas kota Anging Mammiri. Ada komunitas blogger, tak ketinggalan pula komunitas ibu-ibu pencinta kuliner.
Suasananya tentu saja seru. Selain diisi dengan demo masak juga acara bertajuk travel talk. Adapula pengenalan produk Sunco. Tak ketinggalan games seru. Dasar judulnya culinary trip, gamesnya pun tak jauh-jauh dari kuliner. Yup...lomba makan. Beberapa mangkok pisang ijo dan jalangkote disajikan untuk dihabiskan para peserta lomba. Hasilnya lumayan, dapat juara 3. Voucher 200 ribu pun berhasil dikantongi. Eit..nggak jadi 200 ribu ding. Soalnya mesti berbagi dengan peserta satunya lagi. Jadi cuma dapat 100 ribu :)
Acara pengenalan produk juga lumayan seru. Dua orang sukarelawan diminta untuk mencicipi dua jenis minyak goreng yang disajikan. Konon minyak goreng yang baik itu seharusnya bisa diminum, walaupun bukan itu fungsi utamanya. Lihat itu ekspresi mereka girang setelah mencicipi SunCo padahal sebelumnya sempat berkerut kecut saat mencicipi minyak goreng yang lainnya.
Oh iya, para pemenang lomba blog juga menyempatkan diri mejeng bareng. Seharusnya enam orang, kami pun akhirnya hanya foto berlima. Seorang peserta berhalangan hadir. Kami pun berhaha hihi seperti jumpa teman lama. Padahal kelimanya berasal dari 5 kota berbeda yaitu Bogor, Tasikmalaya, Bandung, Jogja dan Makassar.
Di Kampung Popsa ini sebenarnya kami sudah makan kenyang lho. Kan dapat voucher makan seperti tamu undangan lainnya. Sudah itu kenyang dengan jalangkote dan pisang ijo lomba tadi. Tapi lepas dari sini, peserta digiring....makan lagi. Kali ini menuju jalan Serigala. Disana ada makanan terkenal berlabel Pallubasa Serigala. Penampakannya sih mirip sup atau soto. Tapi tentu saja bukan menggunakan daging serigala :P
Siapa yang tak kenal ikon Makassar, Pantai Losari. Tidak afdal rasanya mengunjungi Makassar kalau tidak menyempatkan diri ke sini. Waktunya pun pas, saat matahari akan tenggelam. Selain bisa menikmati pemandangan indah, kami pun bisa merasakan interaksi dengan masyarakat yang sedang menantikan sunset juga.
Sajian makan malam terakhir di kota Makassar didominasi aneka seafood. Wow...sebagai pecinta seafood, saya tentu saja sangat senang. Bayangkan saja mulai dari kerang, cumi, kepiting, ikan kerapu, hingga ikan kudu-kudu memenuhi atas meja makan kami. Cah kangkung spesial menemani nasi pulen di piring masing-masing peserta. Apalagi sambalnya, komplit...plit.... Beda dengan penyajian biasanya, disini sambal disediakan dalam berbagai variasi. Sebuah piring kecil memudahkan pengunjung restoran untuk meracik sambalnya sendiri.
Tiada perjalanan tanpa akhir. Demikian pula dengan culinary trip ini. Hari ketiga kami di Makassar, sebelum pulang ke kota masing-masing, kami seolah diantar pulang oleh lambaian ikan dalam kuah pallumara. Rasanya yang ringan serta warnanya kuning menarik seolah mengingatkan setiap peserta untuk selalu kembali ke Makassar.
Selamat jalan Makassar. Terimakasih SunCo.
Langganan:
Postingan (Atom)












































